Opini Pos Kupang

Kita Boleh Bersorak Aku NTT, Aku Bangga

Kondisi ini sangat mungkin karena beberapa alasan. Pertama, sukses penyelenggara yang kemudian bermuara pada sukses penyelenggaraan

Kita Boleh Bersorak Aku NTT, Aku Bangga
ilustrasi

Oleh Tony Kleden
Mengajar jurnalistik di FISIP Uniwira Kupang, Pemimpin Redaksi Majalah Kabar NTT

POS-KUPANG.COM -- Dengan pengecualian Kabupaten Alor yang terjadi insiden dan Sumba Barat Daya yang perlu menggelar pemungutan suara ulang (PSU) di dua Tempat Pemunguta Suara (TPS), umumnya pemilihan umum kepala daerah (Pilkada), baik pemilihan umum gubernur-wakil gubernur maupun pemilihan umum bupati-wakil bupati di sepuluh kabupaten di NTT berlangsung sukses, tenang dan aman.

Kondisi ini sangat mungkin karena beberapa alasan. Pertama, sukses penyelenggara yang kemudian bermuara pada sukses penyelenggaraan.

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum pasal 1, maka penyelenggara pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan pemilu yang terdiri atas Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dan Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP) sebagai satu kesatuan fungsi penyelenggara pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah secara langsung oleh rakyat.

Dengan posisi dan peran strategis seperti yang ditetapkan dalam undang-undang ini, kita jadi dan mesti paham betapa besar dan berat pekerjaan dan tanggung jawab penyelenggara.

Komisi Pemilihan Umum di semua tingkatan tak jemu-jemu turun dan terjun ke tengah masyarakat melakukan sosialisasi banyak hal terkait dengan pemilihan umum.

Bawaslu tak bosan-bosan melakukan pengawasan, memantau setiap gerak langkah bakal calon dan calon kepala daerah, mengawasi sepak terjang tim sukses.

Tujuannya cuma satu, agar penyelenggaraan setiap tahapan pemilihan umum berjalan aman tanpa pelanggaran. Kalau pun ada pelanggaran etik, DKPP siap menangani pelanggaran itu.

Kedua, masyarakat sudah semakin sadar dan dewasa dalam politik. Kesadaran dan kedewasaan masyarakat akan kandungan makna politik itu menyata dari sikap yang tidak mudah terpengaruh dan apalagi terprovokasi oleh hasutan-hasutan murahan. Irasionalitas dalam sikap dan pilihan politik masyarakat sudah semakin berubah menuju rasionalitas.

Perubahan itu sangat kuat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi pada era internet dan zaman digital ini. Apa yang sebelumnya tertutup rapi di balik sungkup kepentingan, sekarang terbuka lebar dan terang benderang di layar smarthpone.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved