Opini Pos Kupang

Begini Gerakan Literasi Koperasi Cegah Rentenir

Praktik rentenir berkedok koperasi atau lembaga keuangan lainnya sangat meresahkan masyarakat pelaku Usaha Mikro

Begini Gerakan Literasi Koperasi Cegah Rentenir
ILUSTRASI

Oleh Dr. Wara Sabon Dominikus, M.Sc
Dosen Undana, Ketua Puskopdit BK3D Timor

POS-KUPANG.COM - Seminar dengan tema: Revitalisasi Koperasi Menuju Kesejahteraan Anggota dan Gerakan Menolak Rentenir Berkedok Koperasi merupakan salah satu bentuk kegiatan HUT ke-71 Koperasi Tingkat Provinsi NTT di Ruteng 6 Juli 2018.

Nara sumbernya Deputi Bidang Kelembagaan dan Deputi Bidang Kepengawasan Kementerian Koperasi dan UKM RI, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT dan Ketua KSP KOPKARDIOS Ruteng.

Praktik rentenir berkedok koperasi atau lembaga keuangan lainnya sangat meresahkan masyarakat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan masyarakat umumnya serta mencoreng citra koperasi. Bahkan masyarakat pun memandang koperasi tak beda dengan praktik rentenir. Mengapa?

Rentenir sangat dekat dan familiar dengan masyarakat sejak dulu. Bentuk rentenir berubah wajah dari waktu ke waktu. Di masa lalu rentenir dilakukan orang per orang. Belakangan ini rentenir muncul dalam bentuk koperasi.

Rentenir muncul pula dalam bentuk lembaga keuangan lain yang kemudian dikategorikan sebagai investasi bodong oleh OJK. Rentenir berkedok koperasi tidak menjalankan jati diri dan prinsip koperasi sebagaimana diamanatkan UU No. 25 Tahun 1992.

Rentenir berkedok koperasi memberikan pinjaman mudah tapi dengan tingkat suku bunga pinjaman sangat tinggi yakni 20 -50 % per bulan. Karena relatif sangat mudah dan cepat pemberian pinjaman tersebut, maka masyarakat yang terdesak akan modal usaha sering menjadi sasaran empuk para rentenir.

Skema pinjaman rentenir sebagai berikut: pemberian pinjaman modal usaha Rp 1.000.000,-dengan potongan di depan (alasan untuk ditabung) 10 %, dan angsuran Rp 40.000,-per hari selama 30 hari.

Secara matematis pinjaman Rp 1.000.000, diterima peminjam hanya Rp 900.000 tapi total yang dibayar Rp 1.200.000,-atau dengan tingkat suku bunga pinjaman 30 % per bulan.

Ini modus rentenir untuk menyasar masyarakat pelaku UMKM yang terdesak modal usaha karena tidak punya akses ke lembaga keuangan lain.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved