Catatan Sepakbola

Mengapa Kroasia Bisa Menjadi Juara di Final Piala Dunia 2018?

Sugriwo dan Subali. SUBASIC dan SUBASA adalah symbol kesaktian dua orang kembar dalam legenda sepakbola dunia.

Mengapa Kroasia Bisa Menjadi Juara di Final Piala Dunia 2018?
Istimewa
Danang Pamungkas

Analisa Fun Danang Pamungkas

FAKTOR SUBASIC, ya bukan rahasia umum lagi apabila pemain yang satu ini tampil sangat luar biasa berkat aksinya dalam 2 kali duel adu pinalti melawan Denmark dan Rusia. Anda semua tentu tidak heran dengan talenta yang dimilikinya, talenta itu memang sudah mendarah daging dalam darah keluarganya.

Lihat saja aksi Kapten SUBASA yang merupakan kembaran dari SUBASIC yang mampu memainkan gerakan-gerakan sepakbola yang mustahil. Seperti kesaktian dua orang kembar dalam legenda Mahabarata, Sugriwo dan Subali. SUBASIC dan SUBASA adalah simbol kesaktian dua orang kembar dalam legenda sepakbola dunia.

Faktor Bullying, bila ditanya tim sepakbola dari negara manakah yang paling termotivasi di ajang World Cup? Jawabannya tidak lain tidak bukan adalah Kroasia Mengapa? Kroasia termotivasi untuk balas dendam kepada para pengamat dan pemerhati bola yang selalu saja mem-bully mereka dalam setiap ajang 4 tahunan ini. Bagaimana tidak, sepanjang kepesertaannya di ajang World Cup, Kroasia selalu dicap sebagai Kuda Hitam.

Tentunya ini yang membuat mereka sangat tersinggung, marah dan sakit hati. bukan apa-apa seluruh pemain Kroasia dan bahkan hampir seluruh penduduk Kroasia dari Bapak Ibu Pemuda Pemudi sampai Anak-Anak laki perempuan semuanya putih-putih kulitnya. Masa mereka disebut Kuda Hitam? Kalau Kuda Putih masih mendinglah.

Soliditas Tim dan LineU p yang Konsisten, sebagai pengamat sepakbola dan selama saya menekuni profesi ini, saya melihat belum pernah ada tim manapun di dunia yang memiliki soliditas (kekompakan) tim sekuat Kroasia. Beberapa tim mungkin berpotensi namun tidak diikuti lineup yang konsisten. Islandia dan Swedia memiliki kemiripan dalam soliditas tim, ya typical tim-tim seperti Kroasia, Swedia dan Islandia ini memang sudah kompak sebelum bermain.

Lihat saja nama-nama mereka rata-rata kompak berakhiran -ic untuk Kroasia, -on untuk Swedia dan -son untuk Islandia. Lalu mengapa Swedia dan Islandia tidak sekuat Kroasia? ya kalau Islandia jelas, seluruh pemain mereka ini masih anak-anak semua. Sebut saja Sigurdsson, Larsson, Gunnarsson dll. Semua memakai akhiran -son. Tanda bahwa mereka masih anak-anak.

Bagaimana dengan Swedia? Sebenarnya Swedia juga sudah bagus kekompakannya. Sayang sekali kekompakan mereka dirusak oleh satu maestro Sepakbola Swedia yang justru paling spektakuler, popular dan berpengaruh yaitu Ibrahimovic. Lah para pemain sudah kompak pakai -son, ini kenapa ada sosok pesepakbola paling top di Swedia malah bela Kroasia pake-ic.

Kalau Kroasia pastinya sangat-sangat solid. Dari pemain inti sampai pemain pengganti semua konsisten memakai -ic diakhir namanya. Bila ada yang nama panggilannya tidak memakai -ic itu gak masalah seperti Vida,Vrsaljko dan Lovren. Yang penting nama panjang mereka masih memakai akhiran -ic, yaitu Vida Assyic, Vrsaljko Jokowic dan Lovren Titic.

FAKTOR RAKITIC. Ada pepatah dalam Bahasa Idonesia, "berakit-rakit dahulu, bla -bla -bla, bersenang-senang kemudian." Ya pepatah ini mirip petuah berbahasa Jawa "Jer Basuki Mawa Bea." Atau bahkan mirip sekali maknanya dengan quote berbahasa Inggris (bukan British ya karena sudah tersingkir-red) yaitu No Pain No Gain.

Apa artinya semua peribahasa itu bagi Kroasia. Ya mudah saja. Di partai puncak World Cup nanti, tentu hanya akan ada satu tim sepakbola yang akan bersenang-senang,dan itu tentunya bukan Prancis. Mengapa? karena mereka tidak memiliki Rakit, beda dengan Kroasia yang memiliki Rakit dalam diri Rakitic.

Jelasya, coba perhatikan lagi peri bahasa ini, akan menjadi lengkap dan sah bila ada Rakit. Kalau tidak, tidak akan ada agenda bersenang-senang. Coba cermati "berakit-rakit dahulu, bla-bla-bla. bersenang-senang kemudian."

Iya kan? Gak ada Rakit gak bakal banget bisa senang-senang. Karena dalam peribahasa tadi, Rakit ada diawal sebelum berakhir senang-senang? **

Editor: Sipri Seko
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help