Catatan Sepakbola

Sepenggal Kisah Ngongo dan Nganga

Banyak yang sedih, tak sedikit pula yang kecewa. Air mata tumpah di banyak tempat. Sumpah serapah, ungkapan getir sedih

Sepenggal Kisah Ngongo dan Nganga
Instagram
Neymar Jr 

Catatan Sepakbola Dion DB Putra

POS-KUPANG.COM – Langkah Brasil berakhir di Kazan Arena 6 Juli 2018 malam atau 7 Juli waktu Indonesia. Liukan goyang Samba tak sanggup mengalahkan tim bertabur bintang asal Eropa, Belgia. Selecao pulang sebelum babak Final Piala Dunia 2018. Takdir Neymar, Paulinho, Marcelino, Coutinho, Willian, Gabriel Jesus dan kolega hanya sampai di sini. Babak perempat final.

Banyak yang sedih, tak sedikit pula yang kecewa. Air mata tumpah di banyak tempat. Sumpah serapah, ungkapan getir sedih memenuhi linimasa media sosial. Dari musim ke musim rontoknya Brasil selalu menyembulkan kehebohan. Dunia terlanjur jatuh cinta pada tim Samba. Cinta dan air mata kerap seiring sejalan.

Jumlah penggemar Brasil terbesar sejagat raya. Maklum negara ini pemegang trofi Piala Dunia terbanyak yaitu lima kali. Selama pesta Rusia 2018 sudah ada korban nyawa gara-gara bakuolok mengenai kiprah tim Samba. Hukum psikologi idola hanya mau mendengar, melihat dan menerima yang baik-baik saja. Peribahasa bilang tahi kucing pun rasa cokelat.

Apa daya Brasil 2018 tak segarang Brasil 2002. Lagak cengeng, manja dan makan puji menyertainya. Bahkan cukup sering berpura-pura, bikin blunder dan sekadar ngongo dan nganga (baca: bingung alias tidak tahu mau melakukan apa) di mulut gawang lawan sebagaimana dikatakan pencintanya asal Kota Kupang, Pius Rengka.

Baca: Malam Bertabur Bintang di Kazan

Brasil memang sempat berjuang keras setelah tertinggal pada paruh pertama. Namun, secara taktikal Belgia lebih baik sehingga mampu mempertahankan keunggulan 2-1 sampai akhir laga. Belgia pantas berada di semifinal bersua juara 1998, Prancis yang menghentikan langkah menawan Uruguay 2-0. Habis sudah wakil Latin Amerika. Bumi Eropa milik Eropa. Juara dunia 2018 milik benua biru.

Sejumlah orang mengaitkan kegagalan Uruguay dengan absennya striker hebat Edinson Cavani yang cedera saat mereka memulangkan Cristiano Ronaldo dan rekan di babak 16 besar. Sesungguhnya ketidakhadiran Cavani hanya mengurangi daya gedor Uruguay, tetapi bukan itu musabab kekalahan.

Uruguay antiklimas. Penyakit semacam ini kerap melanda tim-tim solid ketika mengikuti kejuaraan bergengsi dalam kurun waktu lama. Setelah meraih hasil sempurna di fase grup dan gagah perkasa menekuk Portugal 2-1 di perdelapan final, Uruguay gagal merawat spiritnya ketika jalannya kompetisi makin menanjak. Melawan Prancis, Uruguay tampil jauh di bawah level terbaik mereka.

Luis Suarez dan kolega yang begitu solid pilar pertahanannya dengan noda hanya sekali kebobolan, mendadak longgar kala melawan Les Bleus. Amat mudah ditembus Antoine Griezmann, Giroud, Kylian Mbape dan Paul Pogba.

Gol serangan udara Varane cermin lemahnya koordinasi Caceres, Godin, Gimenez mengawal musuh. Blunder Musrela yang menghasilkan gol kedua Prancis melengkapi nasib tragis Uruguay. Luis Suaez selama 90 menit hanya berlari-lari kecil karena minimnya umpan matang dari sayap kiri, kanan apalagi assist manis dari blok tengah. Uruguay pantas tersisih.

Halaman
123
Penulis: dion_db_putra
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved