Berita Lembata

Pemerkosa Gadis Penyandang Disabilitas di Lembata Diancam Hukuman 15 Tahun Penjara

Dua oknum pemerkosa YKL, gadis penyandang disabilitas, yakni Mahmud alias Miku dan Boleng akan dijerat dengan Undang Undang Perlindungan Anak (UUPA).

Pemerkosa Gadis Penyandang Disabilitas di Lembata Diancam Hukuman 15 Tahun Penjara
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
Detik-detik saat Mahmud alias Miku dijebloskan ke sel Mapolres Lembata, Sabtu (7/7/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Dua oknum pemerkosa YKL, gadis penyandang disabilitas, yakni Mahmud alias Miku dan Boleng akan dijerat dengan Undang Undang Perlindungan Anak (UUPA).

Sesuai amanat UU tersebut, oknum yang melakukan tindakan pemerkosaan akan dikenakan sanksi hukum maksimal 15 tahun penjara.

Hal tersebut diungkapkan Kasat Reskrim Polres Lembata, Iptu Yohanis Wila Mira, ketika ditemui POS-KUPANG.COM, Sabtu (7/7/2018). Saat itu, Yohanis sedang menerima laporan bahwa oknum pemerkosa atas nama Mahmud alias Miku telah ditangkap dan siap dijebloskan ke balik jeruji besi mapolres setempat.

Baca: KPU NTT Prihatin Atas Pembakaran Mobil Ketua Panwaskab Rote Ndao

Iptu Yohanis mengatakan, dalam kasus pemerkosaan tersebut, polisi telah meringkus dua pelaku, yakni Boleng dan Miku. Boleng sudah diperiksa penyidik sedangkan Miku belum. Miku belum diperiksa karena baru saja dicokok dan dibawa ke Polres Lembata untuk mempertanggungjawabkanperbuatannya, Sabtu (7/7/2018).

Dalam kasus tersebut, lanjut Yohanis, kedua oknum pelaku tersebut dikenakan UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. "Dalam kasus ini pelaku dijerat UU Perlindungan Anak. Karena korban merupakan anak di bawah umur, baru berusia 16 tahun dan baru saja menamatkan kelas VI SDLB Pada. Sekarang ini korban mau masuk ke jenjang SMP Luar Biasa, masih satu atap dengan SDLB (sekolah dasar luar biasa) Pada," ujar Yohanis.

Lantaran oknum pelaku pemerkosaan itu diidentifikasi sebanyak tiga pria, maka saat ini polisi masih mengejar pelaku lainnya. "Sekarang ini kami sudah meringkus dua oknum pelaku. Tinggal satu pelaku lagi yang masih dalam pengejaran polisi. Tapi kami sudah tahu keberadaan pelaku sehingga menunggu kesempatan untuk meringkusnya," ujar Yohanis.

Tentang keberadaan korban, dia mengatakan, sekarang ini korban mengalami trauma. Korban tak mau bertemu siapa saja termasuk polisi. Untuk itu pihaknya akan berusaha menangani kasus ini sebaik mungkin, mudah-mudahan hal tersebut dapat meringankan bahkan mengobati luka hati yang dialami korban.

Dalam kasus tersebut, lanjut Yohanis, korban sudah dimintai keterangan oleh penyidik Sejumlah barang bukti juga telah diamankan polisi. Bahkan hasil visum pun sudah dikantongi. Karena itu tinggal memeriksa Miku dan menangkap satu lagi pelaku agar yang bersangkutan bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved