Memaknai Demokrasi dalam Praktik

Demokratis tidak jarang dipakai dalam berbagai konteks yang bertentangan dengan makna demokrasi itu sendiri

Memaknai Demokrasi dalam Praktik
ISTIMEWA-
Desain Monumen Pancasila yang akan dibangun Pemprov NTT di Jalur 40 sekitar Desa Bolok, Kabupaten Kupang. 

Oleh: Remigius Baci, SH., M.Pd, Dosen STKIP Santu Paulus Ruteng

Pendahuluan

MANUSIA senantiasa memerlukan hidup bersama. Kebersamaan hidup ini akan melahirkan masyarakat, yaitu suatu kelompok yang terdiri dari berbagai keluarga dan anggota keluarga yang hidup berdampingan dan bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhan guna melangsungkan kehidupannya. Hidup berdampingan memang mengharuskan mereka untuk berinteraksi dan bekerjasama, saling membantu dan tidak saling mengganggu.

Untuk itu setiap masyarakat memerlukan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Etika merupakan norma-norma dan aturan tidak tertulis, serta tidak ada implikasi sosial kemasyarakatan. Etika lahir dan berkembang menjadi bagian dari kebudayaan suatu masyarakat. Masyarakat memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, malahan tidak jarang saling bertentangan.

Berdasarkan etika ini, interaksi antarindividu, antarkeluarga bahkan antarkelompok akan berlangsung dengan baik dan teratur. Interaksi yang beranekawarna dengan berbagai tujuan individu yang berbeda tetapi memiliki tujuan umum yang sama, yakni memmenuhi kebutuhan masing-masing apabila didasarkan pada etika yang dipegang bersama, meski terdapat berbagai perbedaan.Upaya untuk mencapai tujuan bisa berlangsung tanpa menimbulkan benturan kepentingan dan konflik.

Dalam kondisi masyarakat dan bangsa yang semakin maju, etika kehidupan tetap diperlukan tetapi tidak lagi mencukupi. Diperlukan sistem dan tatanan soaial baru yang dapat mendasari interaksi dalam kehidupan masyarakat dan bangsa. Terdapat banyak sistem dan tatanan kehidupan, seperti sistem dan tatanan komunis, sosialis diktator, kerajaan, demokrasi dan sebagainya. Dalam perkembangannya, sistem saling mempengaruhi sehingga terjadi percampuran di antara sistem dan tatanan tersebut. Di antara berbagai sistem dan tatanan di atas, demokrasi banyak dinilai sebagai suatu sistem dan tatanan yang paling memadai dan memberikan jaminan akan terlaksananya interaksi dan kerjasama di antara warga bangsa yang bisa mengantarkan mereka mencapai kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera.

Demokrasi merupakan kata yang sudah biasa terdengar di kalangan masyarakat umum. Dalam berbagai pembicaraan banyak diucapkan kata demokrasi dalam berbagai peristiwa dan konteks. Demikian pula dalam bentuk sifat, kata demokratis dipakai dalam berbagai level, mulai dari individu, seperti perorangan bahwa seseorang sangat demokratis, sampai level bangsa, bangsa yang demokratis atau bangsa yang tidak demokratis.

Namun, perkataan demokrasi dalam bentuk sifatnya, demokratis, tidak jarang dipakai dalam berbagai konteks yang pada hakikatnya bertentangan dengan makna demokrasi itu sendiri. Di kalangan Negara komunis muncul istilah demokrasi proletar dan demokrasi rakyat. Di Indonesia pernah muncul terminologi Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila.

Pada hakikatnya, istilah-istilah tersebut memiliki makna yang justru bertentangan dengan hakikat demokrasi. Sebab, mereka menggunakan istilah demokrasi sekedar untuk menutupi sistem politik sesungguhnya yang bersifat diktator. Termasuk menggunakan nama Pancasila, tetapi isi dan praktiknya jauh dari hakikat dan makna Pancasila itu sendiri. Jadi pemerintahan diktator atau paling tidak kekuasaan ada di tangan pemerintah, dengan berbagai aksesoris demokrasi tetapi bersifat palsu.

Kajian di atas menunjukkan bahwa tidak ada satu model demokrasi yang bisa diterima semua pihak. Berdasarkan perspektif bagaimana pemerintahan diorganisir dan bagaimana hak-hak individu dijamin dan dipertahankan, dapat dikatakan bahwa demokrasi memiliki arti berbeda-beda bagi masyarakat yang berbeda-beda.

Halaman
1234
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help