SPARTA Minta Dana Festival 3 Gunung di Lembata Dialihkan ke AJAL

Front Sentral Perjuangan Rakyat Lembata (SPARTA) yang melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Lembata, Selasa (3/7/2018)

SPARTA Minta Dana Festival 3 Gunung di Lembata Dialihkan ke AJAL
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
Front SPARTA saat menggelar unjukrasa di depan Gedung DPRD Lembata, Selasa (3/7/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPAMG.COM, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Front Sentral Perjuangan Rakyat Lembata (SPARTA) yang melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Lembata, Selasa (3/7/2018) menolak program pemerintah yang menggelar Festival 3 Gunung yang telah dilaunching di Jakarta awal Mei 2018 lalu.

Mereka meminta agar alokasi dana untuk kegiatan tersebut dialihkan untuk pembangunan air, jalan dan listrik atau disingkat AJAL.

Sorotan SPARTA itu diungkapkan saat para orator melakukan orasi dalam aksi jalanan yang berlangsung di bilangan Jalan Trans Lembata, persis di depan Gedung DPRD Lembata di batas kota Lewoleba.

Baca: Ternyata Gempa Tektonik Pemicu Terjadinya Dua Erupsi Gunung Agung

Aksi yang dilakukan oleh sekelompok warga sekitar 20 orang itu sempat menjadi tontonan menarik warga Kota Lewoleba. Sebab aksi itu diawali dengan longmarch sekitar 3 km yang dikawal ketat aparat Polres Lembata dan sejumlah anggota TNI dari Koramil Lewoleba.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 13.00 Wita itu berakhir sekitar pukul 15.00 Wita. Aksi juga hanya berlangsung di depan Gedung DPRD Lembata. Agenda itu berubah dari rencana semula, yaitu menggelar aksi di dua tempat yakni di Gedung DPRD Lembata dan Kantor Bupati Lembata. Saat aksi berlangsung tak satu pun anggota Dewan berada di Gedung Peten Ina Lewoleba. Demikian juga bupati dan wakil bupati Lembata, tidak berada di tempat.

Meski para pejabat itu sedang bertugas keluar daerah namun mereka tetap mengungkapkan unek-uneknya, menyoroti ketimpangan yang sedang terjadi di daerah itu.

Salah satunya, adalah melihat Festival 3 Gunung sebagai ajang menghambur-hamburkan uang rakyat. Karena dana yang dialokasikan itu tidak diarahkan pada kebutuhan urgen masyarakat setempat, yakni air, jalan dan listrik.

Mereka juga meminta pemerintah segera menyelesaikan persoalan air bersih Weilain di Kedang. Pasalnya, fasilitas yang dibangun berupa jaringan perpipaan dan bak-bak air dengan menghabiskan anggaran miliaran rupiah, namun sampai saat ini masyarakat tidak menikmati hasilnya. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help