Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (4)

Isu ini masuk begitu cair ke dalam banyak program spesial antara lain, kelas pendidikan seni Asia selatan, residensi

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (4)
FOTO DICKY SENDA
Eid Community Festival di salah satu taman Kota Bradford Inggris 

Lalu bagaimana ide itu bisa jalan? Pemerintah kota punya aset dan akses untuk itu, potensi wisata sejarah dan budaya kota ada, sekolah-sekolah bisa menjadi partner untuk berbagai kegiatan kreatif bersama setelah pelajaran sekolah dan dilakukan di atas bus.

Itu yang kami pikirkan sementara. Prosesnya masih panjang. Kami akan mampir ke Ediburgh, lalu ke Sunderland dan seterusnya. Lihat saja apa yang akan terjadi, karena tentu saja bertemu dengan banyak pelaku kewirausahaan sosial di setiap kota, mendiskusikannya dengan banyak pihak akan menambah hal-hal baru ke dalamnya.

***

Di Bradford saya menemukan tipikal birokrat yang menurut saya cool. Kami bertemu beberapa petinggi komisi yang menangani isu orang muda dan anak, para aktivis muda yang bekerja dalam isu kesehatan mental. Mengapa?

Sambat Lu'at
Sambat Lu'at (FOTO DICKY SENDA)

Mereka meruntuhkan persepsi saya selama ini tentang pejabat, ketua komisi ini dan itu yang seringnya kelihatan `bossy', tapi sebenanya tidak banyak bikin apa-apa.

Tampilan mereka sederhana, banyak bicara pengalaman dan data dan terlihat sangat menguasai bidang yang mereka pimpin. Kesehatan mental dan wellbeing menjadi pokok pembicaraan kami sore itu.

Mengapa kasus itu tinggi? Ternyata karena ada persoalan ekonomi yang menyebabkan gangguan secara fisik dan mental. Ketimpangan ekonomi juga mengakibatkan terbatasnya akses dan kesempatan untuk mendapat pendidikan yang baik.

Saya begitu senang melihat pemerintah begitu menaruh perhatian pada isu kesejahteraan mental dan wellbeing. Apa itu wellbeing?

Wellbeing adalah kondisi psikologis ketika seseorang memiliki kemampuan menerima diri sendiri maupun kehidupannya di masa lalu dan yakin bahwa hidupnya bermakna dan memiliki tujuan. Ia memiliki kualitas hubungan yang positif dengan orang lain dan punya kapasitas untuk mengatur kehidupan dan lingkungan secara efektif.

Bagaimana dengan wellbeing-mu? Ungkapan Jude Kelly, "selesaikan dulu dirimu sebelum menolong orang lain," terus saja mengusik benak saya. Kesejahteraan bukan saja fisik namun mental.

Kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah membuat banyak orang muda terjebak dalam persoalan ini.

Orang muda Bradford cukup beruntung punya pemerintah yang solid dan pekerja keras, mendukung dan mendorong banyak komunitas seperti Kala Sangam untuk bekerja bersama menciptakan lingkungan yang sehat bagi semua orang. Bagaimana dengan kita?

Saya ingat, angka bunuh diri di Kupang masih sangat tinggi. Siapa yang mau peduli. Pemerintah? Seniman lokal? Komunitas? Menolong orang-orang gila saja tidak cukup.

Perlu juga mendorong terciptanya banyak peluang, ruang dan kesempatan kepada orang muda untuk berkembang. Saya percaya, kesenian dan komunitas bisa menjadi salah satu alat untuk mendorong terciptanya harapan itu.

Di Bradford pemerintah mendukung banyak komunitas kewirausahaan sosial yang bekejera di isu kesehatan dan kesejahteraan mental.

Dari satu kewirausahaan sosial, keuntungannya diputar kembali, dipakai untuk memodali aksi sosial atau kewirausahaan lain, begitu seterusnya. Sehingga dampaknya meski kecil namun terasa dan kelihatan menyenangkan sebab warga memainkan peran mereka secara langsung dan aktif.

Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia
Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia (ISTIMEWA)

Bagaimana dengan kita? LSM terlalu banyak juga kadang meninggalkan banyak pertanyaan, keberlanjutan dan kemandirian komunitas warga bagaimana?

Kewirausaan sosial yang dikendalikan warga memiliki semangat untuk berkembang bersama, memanfaatkan potensi lokal sekaligus melatih kemandirian warga.
Apa mungkin membayangkan kota yang inklusif?

Saya ingat saat merayakan pesta ulang tahun Paroki Kapan yang ke-50 saya begitu ngotot memasukan tulisan anak-anak dan remaja, terutama perempuan ke dalam buku kenangan dan sejarah kecil gereja yang kebanyakan sudah ditulis oleh para orang tua yang kebanyakan laki-laki.

Ada yang tertawa dan bertanya? Kenapa harus anak-anak? Bagi saya sudah masa depan Gereja bukan lagi nanti ketika anak-anak itu besar, masa depan itu sudah harus dimulai dari sekarang, ketika mereka dilibatkan mulai dari hal-hal kecil di Gereja.

Saya suka protes, mengapa orang muda Katolik di Gereja itu hanya disuruh angkat kursi, bekerja serabutan di belakang Pastoran tapi tidak dilatih untuk mulai ikut rapat Dewan Gereja, ikut mengambil keputusan, dsb.

Mengapa anak-anak Sekami tidak juga dilibatkan dari rapat dan pertemuan penting? Lantas kelak kita mengeluh jika pemimpin ini buruk, pemimpin itu jelek, dst. Kita sendiri yang menyebabkan orang lain tidak berkembang maksimal. Kita tidak memberi kesempatan sejak dini kepada orang lain untuk berkembang.

Di Bradford saya melihat keseriusan pemerintah melibatkan orang muda dalam kebijakan. Mungkin belum sempurna, mungkin masih ada banyak kekurangan tapi memikirkan kaum muda bukan sekadar menyediakan anggaran bagi mereka, tapi lebih dari itu, ikut melibatkan mereka dalam setiap kebijakan.

"Kami sedang mengurus banyak orang tua di kota ini dan itu menghabiskan banyak uang. Tapi dengan melibatkan orang muda dalam setiap kebijakan saat ini artinya sekaligus mempersiapkan mereka menentukan masa depan mereka kelak," ungkap salah satu perwakilan Bradford City Council.

Kami mengakhiri perjalanan di Bradford dengan mampir ke Eid Community Festival yang panitianya adalah orang-orang muda.

"Keuntungan dari semua pejualan makanan dan permainan, kami pakai untuk memembantu banyak komunitas orang muda sekaligus membiayai terselenggaranya festival tahun depan," jelas Kamran Rashad sang pengagas acara.

Seluruh peserta Drivers for Change mendapat voucher senilai 10 poundsterling, kembaliannya bisa diuangkan. Saya beli satu porsi nasi kasi, satu burger daging domba dan satu kaleng lemonade, masih ada kembalian 2 poundsterling.

Saya selalu sulit makan makanan apapun di Inggris. Rasanya terlalu hambar untuk lidah Timor saya. Untung saya bawa sebotol sambal lu'at dari Mollo produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas jadi rasa tawar itu bisa lenyap karena pedas, asam dan wangi utsipa jadi satu.

Perut kenyang, hati senang, kami melanjutkan perjalanan ke Edinburg, tidur semalam di YHA Hostel di York. Saya membayangkan generasi muda Mollo yang akan hidup lebih baik ke depan jika mulai sekarang sudah mulai dikasih kesempatan, dilibatkan dalam banyak hal positif.

Saya tiba-tiba ingat 15 remaja Mollo di kelas menulis kreatif To the Lighthouse yang baru saja meluncurkan buku kumpulan cerita yang mereka tulis, yang terinspirasi dari berbagai dongeng lokal dari masa kanak mereka. Sudahkah kita memikirkan kesejahteraan mental mereka? *

* Dicky Senda adalah penulis 3 buku cerpen, pegiat makanan dan sejak dua tahun terakhir bergiat di sebuah komunitas warga bernama Lakoat.Kujawas di Desa Taiftob, Kapan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lakoat.Kujawas merupakan komunitas yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan perpustakaan warga, ruang berkesenian, toko online produk khas Mollo, homestay dan ruang arsip.

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved