Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (3)

Sejak bertemu sehari sebelumnya, saya membayangkan ada kesan bahwa perjalanan dalam Drivers for Change ini adalah

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (3)
ISTIMEWA
Dicky Senda bersama teman-temannya 

Pemetaan juga bisa sekaligus membangun kesetaraan dan keadilan berpikir. Kewirausahaan sosial mengajarkan prinsip bekerja bersama komunitas (people), memperoleh keuntungan yang dipakai untuk mendorong perubahan ekonomi komunitas lain (profit) sekaligus menciptakan kondisi lingkungan yang berkelanjutan untuk generasi berikutnya (planet).

Setelah sesi pemetaan, kami terbagi dalam empat kelompok besar dan mengunjungi empat kewirausahaan sosial besar di Liverpool. Saya dapat di Blackburne House jadi tidak harus pergi lagi.

Blackburne House adalah sebuah organisasi yang lahir tahun 1983 yang fokusnya adalah mendukung perempuan Liverpool yang tidak punya akses dan kesempatan dalam pendidikan yang membuat mereka sulit mendapat pekerjaan.

Dicky Inggris
Dicky Inggris (FOTO DICKY SENDA)

Mereka punya beberapa produk yang dijual bistro, spa, tempat penitipan anak, kelas-kelas untuk pengembangan diri perempuan Liverpool, ruang pertemuan yang bisa disewakan kepada publik dan keuntungan dari semua usaha itu yang dipakai untuk membangun komunitas lokal dan perekonomian yang berkelanjutan.

Efeknya, kaum perempuan Liverpool mendapat akses pengetahuan dan ketrampilan sehingga memudahkan mereka mencari pekerjaan.

Di Blackburne House kami tidak diceritakan lebih banyak tentang model kewirausahaanya, namun Ana sebagai perwakilan memberikan sebuah pelatihan singkat bagaimana kami membangun visi, nilai dan gol dari diri kita dulu sebelum nantinya bergerak ke visi hingga gol komunitas.

Yang menarik dari bagian menentukan gol, kami diajari menggunakan teknik SMART (Spesific, Measureable, Achieveable, Realistic dan Time Based).

Apa yang ingin kamu capai, bagaimana kamu akan mengukur apa yang kamu lakukan itu sudah termasuk sukses, apa mudah dicapai, apa realistis dan apakah punya jangka waktu yang terukur dan pasti?

Balik lagi ke komunitas kami di desa Taiftob, Timor, gol pertama kami dalam satu tahun ke depan nanti kami akan meluncurkan Sandalwood Heritage Trail. Kami mulai aktif menyelesaikan riset dan pemetaan, melakukan penguatan kapasitas semua pihak yang terkait di dalam dan meyakinkan komunitas lain atau pemerintah untuk ikut mendukung program kami ini.

Dari Blackburne House kami berjalan kami menuju pusat kreatif orang muda Liverpool di Baltic Triangle. Di sana ada sebuah ruang kerja kolaborasi keren bernama Baltic Creative Campus tempat puluhan seniman, pekerja kreatif dan perusahaan yang bergerak di industri kreatif dan orang muda berkumpul, menyewa ruang untuk berkantor atau menjual banyak produk mereka.

Mereka punya warung kopi, 70 studio di bidang teknologi digital dan community space. Mereka menghubungkan komunitas orang muda, industri kreatif dan bisnis sosial itu sendiri. Ekosistemnya terjaga sebab mereka bertumbuh bersama.

Ruang yang disewakan diciptakan senyaman mungkin di rumah-rumah bekas gudang. Liverpool sebagai kota pelabuhan tua punya banyak sekali bangunan tua yang unik dan kemudian disulap menjadi ruang kreatif bagi penduduk kotanya. Ada dapur, kamar mandi, tempat berolahraga dan sepeda yang disiapkan di ruang kerja kolaborasi itu.

Satu hal menarik yang saya temui di Baltic Triangle ini: ada banyak sekali poster, buku program komunitas dan agenda bulanan kota, mungkin ratusan jumlahnya.

Menurut saya, sebuah kota bisa dianggap berbudaya jika punya pemikir dan mengajak warganya ikut berpikir, mengapresiasi pemikiran orang lain. Apa yang dikatakan Jude, Ben atau Kurtis pada paginya bukan isapan jempol belaka.

Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia
Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia (ISTIMEWA)

Mereka tahu betul kotanya, mereka punya mimpi dan visi yang sama akan kehidupan yang lebih baik di kota itu sekarang dan nanti, sehingga setiap apa yang mereka lakukan, sendiri atau bersama, mengarahkan mereka pada keniscayaan itu.

Liverpool adalah kota multietnis yang warganya sadar bahwa sekat ras dan agama harus dihancurkan. Betapa indahnya hidup berdampingan di kota yang indah, kreatif dan inovatif sebagai warga yang sama dan setara dalam setiap kesempatan.

Kami mengakhiri hari di kota yang khas dengan mayoritas bangunannya terbuat dari bata merah tanpa diplester sehingga menambah karakter yang kokoh dan alami.

Di Baltic Market, masih dalam kawasan kreatif Baltic Triangle (lokasinya mirip dan seluas Kampung Solor, LLBK hingga Bonipoi Kupang), kami mendapat voucher untuk makan malam senilai 10 poudsterling. Baltic Market seperti pasar malam di Indonesia yang khusus menjual makanan, aneka bir dan musik dari seniman lokal.

Dari bekas gudang yang antik kios-kios yang menjual makanan dan minuman eksis juga dengan prinsip kewirausaan sosial: sebagian keuntungan tidak kembali ke pemilik modal namun diinvestasikan lagi untuk membangun komunitas dan ekosistem yang ada dan seterusnya. Pada akhirnya semua maju bersama.

Kami menginap dua malam di hostel berjejaring YHA, yang juga memakai prinsip kewirausahaan sosial. Bahkan HTC Group yang menyediakan jasa bus yang akan membawa kami selama 11 hari keliling Inggris juga adalah sebuah kewirausahaan sosial juga (baca: hctgroups.org). Saya tak sabar untuk berkunjung ke kota berikutnya, Bradford. *

* Dicky Senda adalah penulis 3 buku cerpen, pegiat makanan dan sejak dua tahun terakhir bergiat di sebuah komunitas warga bernama Lakoat.Kujawas di Desa Taiftob, Kapan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lakoat.Kujawas merupakan komunitas yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan perpustakaan warga, ruang berkesenian, toko online produk khas Mollo, homestay dan ruang arsip.

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help