Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (3)

Sejak bertemu sehari sebelumnya, saya membayangkan ada kesan bahwa perjalanan dalam Drivers for Change ini adalah

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (3)
ISTIMEWA
Dicky Senda bersama teman-temannya 

Selain Jude, ada Ken sang tur guide senior di kota Liverpool juga Ben dan Kurtis dua peserta Drivers for Change asal Liverpool yang ada di dalam bus. Menarik sekali melihat kota tempat lahir dari kacamata para orang tua, Kelly dan Ken, juga dari kacamata orang mudanya yang diwakili Kurtis dan Ben.

Ken bahkan dengan nada bercanda bilang betapa ia begitu mencintai Liverpool dan bagaimana kota ini dibangun kembali pasca perang dunia kedua menggunakan `European Money' sehingga tentu saja ia menolak ide Brexit. "No Brexit! Eropa telah mengembalikan wajah dan masa depan Liverpool."

Sementara Ben yang punya darah Afrika dan Skotlandia atau Kurtis yang keluarganya perpaduan Katolik Irlandia dan Protestan juga punya hambatan tersendiri dalam bidang sosial.

Mereka sebagai orang muda sepakat untuk meninggalkan segala sentimen yang memecah belah dan lebih memilih untuk melihat Liverpool ke depan yang lebih positif dan semua orang siapapun dia punya kesempatan yang sama untuk maju.

Dari pusat kota tua di pinggir sungai kami menuju ke ketinggian melewati markas klub bola Everton dan beberapa akademi sepak bola, menuju ke salah satu situs Kekristenan tertua Saint George Church.

Ken membawa kami ke pojok belakang tempat pekuburan dan sebuah bangunan tua yang disebut sebagai sekolah pertama untuk anak laki-laki Liverpool di tahun 1515.
Di titik ini saya melihat bagaimana warga Liverpool membangun kotanya dengan tidak melupakan sama sekali setiap sejarah yang pernah terjadi. Sejarah, budaya dan seni pada akhirnya yang mendorong mereka bangkit dan kini menjadi salah satu kota yang ekonomi kreatif dan kewirausahaan sosialnya bertumbuh pesat.

Bagaimana dengan di Mollo, di Timor, di Indonesia? Bangunan-bangunan tua digusur dan diganti bangunan baru. Kita akan terus mengulangi banyak kesalahan dan akan terus berjalan di tempat, saya kira. Sebab tahun bertambah dan kita terus kehilangan identitas.

Setelah menyelesaikan tur keliling kota kami kembali ke Blackburne House untuk melanjutkan sesi Community Mapping. Drivers for Change tidak saja berisi agenda jalan-jalan keliling 8 kota dan bertemu para praktisi dan aktivis kewirausahaan sosial.

Kami juga terlibat dalam lokakarya `langkah demi langkah membangun proyek kewirausahaan sosial'. Prosesnya terjadi di setiap kota, di sela agenda kunjungan ke komunitas lokal.

Pemetaan yang kami buat ternyata bukan saja untuk melihat potensi di lingkungan kita atau sekadar memahami konteks geografis tapi lebih dari itu, lewat pemetaan kita sebenarnya bisa memikirkan untuk membangun koneksi antar titik, membangun dialog, sekaligus memecah batasan-batasan.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved