Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (2)

Kami diapit rombongan wisatawan para opa-oma sehat dan bugar dari Italia. Saya dan Sisca dari Pasar Papringan deg-degan kalau prosesnya akan ribet

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (2)
ISTIMEWA
Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia 

Tinggal di desa itu bukan karena tidak punya pilihan lain, tapi memang itu pilihan sadar dan bertanggung jawab yang ia ambil. Village lost their thinker.

Sementara Manaal dari Pakistan yang seorang dokter muda, bercerita bagaimana budaya yang menabukan tubuh perempuan juga berakibat perempuan sulit terbuka tentang penyakit dalam dirinya dan sulit mendapat akses ke pelayanan kesehatan.

Problem kanker payudara menjadi isu penting yang dibawa Manaal dalam proyek yang ia kerjakan selama ini. Lingkungan menjadi titik penting untuk menciptakan kepedulian.

Cerita keren lainnya juga datang dari Pakistan. Azima adalah mahasiswa bisnis semester 4 yang lahir dari pasangan deaf/tuli. Kesulitan berkomunikasi antara orang tuanya dengan orang lain mendorong Azima membuat aksi untuk mempopulerkan bahasa isyarat kepada publik lewat bentuk start up bersama teman-temannya.

Kesadaran dibangun dari hal sederhana dan mengakar juga kekinian khas anak muda. Menurut Azima, mengembangkan teknologi saja untuk para deaf tidak cukup, perlu ada gerakan kolaborasi antara para deaf dan komunitas warga untuk saling mengerti dan mendukung.

Ada Larissa, Fabio, Kiara, Paulo dan Fernanda dari Brasil. Fernanda punya pengalaman bekerja di Ashoka, kewirausahaan sosial yang cukup besar dan terkenal.

Kewirausahaan sosial di Brasil cukup berkembang. British Council Brasil bahkan mengirim 5 orang ke Driver for Change kali ini. Sementara tim Afrika Selatan ada Beki, KG, Karaboo dan Masego. Kalat alias KG yang pernah bekerja di Unilever sebagai teknisi kemudian membangun usaha foodtruck yang menjual panganan khas Afsel dan kini sudah punya 5 orang pekerja. Keren!

Dari Mesir ada Dalia, Waelaly, Rana dan Aseel. Dalia salah satu yang keren. Dia lulusan fine art dan bersama teman-temannya sedang melawan pemikiran di Mesir kalau bukan sekolah dokter atau insinyur itu tidak keren, tidak oke, itu kesalahan. Dalia mendorong orang muda untuk memilih apa yang mereka suka dan hidupi itu.

Saya kira pilihan isu ini keren dan Dalia membungkusnya lewat latar belakangnya di bidang kesenian. Ah mereka semua keren. Punya sikap dan peduli pada isu di sekitar mereka dan berusaha untuk menghubungkannya ke sebuah bisnis sosial. Visi dan semangat yang mumpuni untuk sebuah perubahan di lingkungan terkecil mereka.

Keberpihakan pada kaum yang lemah dan terpinggirkan memang seharusnya terjadi. Ekonomi pada akhirnya harus mendorong banyak pihak untuk bertumbuh bersama. Kami menutup sesi itu dengan makan malam (meski di luar masih terang benderang.

Matahari di London saat musim panas terbenam jam 10 malam). Makan malamnya di Express Pizza dekat Trafalgar Square. Saya memilih pizza otentik Napoli ditemani bir Peroni Nastro Azzuro dengan alkohol 5%.

Selesai makan saya, Sisca dan Dalia kembali ke hotel, menyusuri padestrian London yang luas, komplek kedutaan yang rapi dan terbuka tanpa pagar tinggi 5 meter kayak di Indonesia. Melewati halaman gedung tua yang asri di mana warga bisa berkerumun, mengobrol bahkan tidur menikmati musim panas.

Yang lain memilih jalan-jalan dan bersiap untuk perayaan ulang tahun Fabio di salah satu cafe. Saya pulang, mandi dan ketiduran. Saya tidak ikut pesta ulang tahun Fabio. Pagi tadi saya terbangun jam 4, di luar sudah terang benderang seperti jam 6 pagi di Mollo. Saya menulis catatan ini. Room mate saya Waelaly asal Mesir masih tidur.

Semalam mereka pesta hingga jam 1 dini hari. Jam 9 nanti kami akan bergerak ke Liverpool! Akan dua hari di sana dengan agenda kunjungan ke bisnis sosial setempat : Metal, Blackborne House dan Furniture Resources Centre.

Tentu saja akan berkunjung ke Baltic Triangle. Ada yang kirim whastapp, jangan lupa foto di depan stadion Anfield Liverpool.

Di Liverpool akan ada Jude Kelly sang sutradara di balik aksi keren Drivers for Change bersama tim dan 70 orang muda dari kota lain selain London yang sudah menunggu. Perubahan. Siapa dan untuk apa perubahan itu?

* Dicky Senda adalah penulis 3 buku cerpen, pegiat makanan dan sejak dua tahun terakhir bergiat di sebuah komunitas warga bernama Lakoat.Kujawas di Desa Taiftob, Kapan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lakoat.Kujawas merupakan komunitas yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan perpustakaan warga, ruang berkesenian, toko online produk khas Mollo, homestay dan ruang arsip.

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved