Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (2)

Kami diapit rombongan wisatawan para opa-oma sehat dan bugar dari Italia. Saya dan Sisca dari Pasar Papringan deg-degan kalau prosesnya akan ribet

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (2)
ISTIMEWA
Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia 

Di luar, sopir dari British Council sudah menunggu, bersama Azima dan Manaal, dua kawan baru perwakilan British Council Pakistan. Manaal adalah seorang dokter yang berkarya di bidang kesehatan masyarakat terkait isu gender sementara Azima masih mahasiswa dengan proyek start up yang sangat keren bersama teman-teman dengan gangguan pendengaran (deaf).

Tiba di hotel Merlin di bilangan Waterloo kami langsung mandi dan pergi ke pusat kota. Hotelnya tidak jauh dari London Eye, St James Park dan Buckingham Palace.

Menyenangkan, meski tidak banyak surprise di sini sebab Big Ben sementara renovasi dan London Eye yang dari dekat terlihat biasa-biasa saja. Saya dan Sisca pergi ke Buckingkam Palace lalu mampir di St. James Park di jantung kota London. Kami ingin sepakat melihat tata kota ini, terutama taman kota sebagai area publik yang gratis digunakan warga.

Saya dan Sisca terus saja mendiskusikan apa yang kami temui sepanjang jalan khususnya tentang pengelolaan kota dan merefleksikannya dengan kondisi di Indonesia, di komunitas kami masing-masing.

Inggris
Inggris (FOTO DICKY SENDA)

Bagaimana bangku taman diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak membatasi pejalan kaki atau jalur sepeda. Bagaimana semua orang bertanggungjawab untuk menjaga kebersihan.

Ini adalah puncak musim panas dan hingga jam 7 malam taman masih begitu ramai sebab saat musim panas, matahari baru akan terbenam di jam 10 malam. Dan ketika orang membubarkan diri dari taman, tidak ada satupun sampah plastic yang berceceran. Sisca adalah kawan perjalanan yang cerdas dan jeli melihat situasi sekitar, dan menyenangkan diajak diskusi.

Ketika pulang dari taman kami sadar bahwa kami begitu lelah karena begitu penasarannya kami lupa bahwa kami baru saja melewati lebih dari 16 jam perjalanan dari Indonesia!

Waktu terus berputar, banyak restoran mulai tutup karena memang sudah malam meski langit masih cerah. Untuk pertama kalinya, poundsterling kami pecah untuk makan malam.

Karena lelah ditambah tidak punya pilihan memilih restoran yang cocok, murah dan masih buka, akhirnya terpilihkan restoran cepat saji yang masih terbuka di dekat London Eye. McDonald. Agak berat hati, apalagi bagi Sisca.

Kami menghibur diri dan sadar bahwa datang ke Inggris dengan uang saku pas-pasan. Mengeluarkan uang 6 poundsterling per orang untuk makan malam sudah sangat cukup. Kalau dirupiahkan tentu saja mahal untuk ukuran makan di restoran cepat saji.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help