Libur, Pulang Kampung, Lebaran dan Nonton Bola

Namun pada hari libur ada ketegangan pikiran dilenturkan, nilai yang dalam hari-hari kerja dipandang sedemikian serius

Libur, Pulang Kampung, Lebaran dan Nonton Bola
ilustrasi

Oleh: JB Kleden 

ASN Kementerian Agama NTT

POS-KUPANG.COM- Terus terang saja keempat istilah dalam judul karangan ini mendapat inspirasinya dari meja makan keluarga.

Begitu mendengar penambahan cuti lebaran, anak saya berteriak sampai melompat di atas kursi. "Asyik libur, kita pulang kampung, Lebaran bersama om Mat dan nonton bola dengan Ridwan."

Ah ya, saya seperti mendapat durian runtuh untuk menulis. Libur, Pulang Kampung, Lebaran, Nonton Bola.

Keempat istilah yang berbeda pengertian ini sengaja ditempatkan berjejer, bukan untuk mensejajarkan, tetapi karena terjadi dalam momentum bersamaan dan sama-sama berkorelasi dengan pembebasan.

LIBUR. Siapakah yang tak girang hatinya? Anak-anak sekolah selalu menanti musim libur. Para pekerja, tua dan muda, rohaniwan dan awam, merindukan libur. Libur dipahami sebagai sebagai bebas dari bekerja atau sekolah.

Pemahaman ini boleh jadi keliru sebab pada hari libur otot barangkali bekerja sama kerasnya dengan pada hari kerja.

Namun pada hari libur ada ketegangan pikiran dilenturkan, nilai yang dalam hari-hari kerja dipandang sedemikian serius dan dikejar mati-matian, boleh diremehkan dan ditertawakan. Manusia bukanlah "the Iron Man" yang harus bekerja tanpa jeda.

Maka hari libur seyogyanya adalah sebuah istirahat kebudayaan, saat dimana manusia berganti kulit dari homo faber -manusia tukang, menjadi homo ridens, yang tertawa ria dan jenaka.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved