Dekan FKIP Undana Ini Nilai 4 Paslon Gubernur NTT Kurang Perhatikan Sektor Pendidikan

Drs. Petrus Ly, M.Si, menilai keempat Paslon Gubernur NTT kurang memberi perhatian pada sektor pendidikan di NTT, Kamis (21/6/2018).

Dekan FKIP Undana Ini Nilai 4 Paslon Gubernur NTT Kurang Perhatikan Sektor Pendidikan
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Drs. Petrus Ly, M.Si, Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana Kupang di Aula lantai tiga kantor Rektorat Undana Kupang, Jumad (8/6/2018).

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Drs. Petrus Ly, M.Si, Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana Kupang menilai keempat Paslon Gubernur NTT kurang memberi perhatian pada sektor pendidikan di NTT, Kamis (21/6/2018).

"Dari keempat calon (Paslon Gubernur NTT) saya belum menemukan desain program untuk melipatgandakan kemajuan pendidikan di NTT, belum nampak," ungkap Petrus kepada POS-KUPANG.COM di gedung rektorat baru Undana Penfui Kamis.

Baca: Tim Labfor Mabes Polri Pastikan Sumber Kebakaran dari Ruangan Kantor Dinas Perumahan

Ia menambahkan, dunia pendidikan di NTT menurutnya belum menunjukan kemajuan yang signifikan, bahkan menurutnya mengalami kemunduran, akibat dari kurangnya perhatian pada sektor pendidikan ini

"Tidak ada yang berubah para calon gubernur NTT tidak ada yang menyentuh pendidikan, justru pendidikan ini yang membuka wawasan kemana-mana," jelasnya.

Dikatakannya, jika ingin mempercepat pembangunan di NTT maka sektor pendidikan harus mendapat prioritas yang lebih dari pemerintah, Apalagi, lanjut Petrus, adanya peraturan perundang-undangan yang mengharapkan 20 persen anggaran APBN atau APBD dianggarkan untuk sektor pendidikan.

"Saya berharap mereka harus punya komitmen sehingga pemerintah bisa berbuat lebih banyak untuk memajukan pendidikam di NTT," imbuhnya.

Untuk kemajuan pendidikan di NTT, lanjut Petrus, minimal ada lima variabel yang menentukan mutu pendidikan dan harus diperhatikan oleh para paslon Gubernur NTT, Pertama, Sumber Daya Manusia (SDM), SDM dalam sektor pendidikan ini adalah para guru dan dosen,

"Berapa banyak perhatian terhadap peningkatan mutu guru di NTT, berapa banyak program dan anggaran yang mereka harus canangkan serta anggarkan untuk perbaiki mutu para guru di NTT," katanya.

Lanjut Petrus, variabel Kedua ialah sarana prasarana pendukung pendidikan di NTT, menurutnya sarana prasarana pendidikan di NTT masih jauh dari yang diharapkan, bahkan terkesan diabaikan oleh pemerintah.

"Terlalu banyak sekolah yang seperti zaman Soeharto (Presiden kedua RI), sampai sekarang untuk rehab saja juga tidak, aspek sarana pasarana ini kurang diberi perhatian, justru tugas pemerintah lebih banyak dialihkan ke komite sekolah dan orangtua padahal itu tanggungjawab pemetintah, coba diidentifikadi saja berapa banyak sekolah masih didominasi oleh program semasa Orde Baru Soeharto," jelasnya.

Variabel ketiga, kata Petrus, yaitu dukungan politik, ia menilai dukungan politik di sektor pendidikan melalui produk kebijakan sangat minim untuk membangun pendidikab di NTT dan hal ini harus diperhatikan oleh pemerintah.

"Dukungan politik pemerintah terhadap sektor pendidikan ini juga sangat kurang, saya menduga, coba nanti dikonfirmasi kembali dana APBD yang ada di kabupaten dan Provinsi NTT tidak mencapai 20 persen, itu satu kebijakan yamg tidak responsif terhadap mutu pendidikan," ujar Petrus.

Petrus menjelaskan, variabel keempat yakni partisipasi masyarakat, ia menilai pembangunan kesadaran masyarakat untuk terlibat aktif dalam membangun pendidikan di NTT kurang dioptimalkan bahkan menurutnya tidak terlalu mendapat perhatian.

"Jadi paling kurang ada empat variabel ini yang harus disentuh oleh program pemerintah," katanya. (*)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help