Nikmatinya Akulturasi dalam Semangkuk Wedang Tahu Semarang

semangkuk wedang tahu menggelitik kesadaran bahwa hubungan sosial antarwarga di tanah Indonesia diikat kemajemukan yang terbina selama berabad

Nikmatinya  Akulturasi dalam Semangkuk Wedang Tahu Semarang
(Fitri Agung / /commons.wikimedia.org)
Kembang tahu 

POS KUPANG.COM - Kala senja menjelang di Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah, kisah-kisah di antara seluk-beluk kota yang sudah dirintis sejak abad ke-8 Masehi itu seakan bermunculan satu demi satu.

Bersamaan dengan lampu-lampu jalanan yang bersinar terang, rangkaian cerita tersebut menjelma dalam berbagai bentuk seperti gedung, jalan raya dan tentunya makanan.

Untuk mendapatkan itu semua dalam satu ruang, mari beranjak sejenak ke sebuah kawasan tempat bermukimnya masyarakat Tionghoa yang disebut Pecinan di Semarang Tengah.

Selain bisa menikmati beberapa gedung yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun seperti klenteng Siu Hok Bio yang berdiri sejak sekitar tahun 1753, pengunjung juga dapat mencicipi makanan khas yang dijajakan di Pasar Semawis.

Pasar Semawis, Semawis kependekan dari Semarang untuk Pariwisata, memang menjadi pusat wisata kuliner malam hari di Semarang. Disana, anda bisa menemukan banyak ragam makanan seperti es krim, aneka sate (termasuk sate gurita), soto dan nasi goreng.

Dari antara makanan-makanan itu, ada pula yang menyandang gelar makanan klasik yang khas Semarang misalnya lunpia, pisang plenet dan wedang tahu. Lunpia sepertinya menjadi santapan ringan asal Semarang yang paling dikenal oleh masyarakat Indonesia. Olahan yang berasal dari budaya Tionghoa ini bentuknya seperti risol dengan kulit luar yang garing dengan macam-macam isian terutama rebung yang menjadi ciri khasnya sejak dahulu.

Mungkin yang masih asing di lidah dan telinga orang non-Semarang adalah pisang plenet dan wedang tahu. Secara umum, pisang plenet adalah pisang bakar yang dipipihkan atau dalam bahasa Jawa "diplenet". Penganan yang sudah berumur lebih dari 50 tahun ini terasa sedap karena dicampur dengan variasi "topping" atau atasan layaknya serbuk gula, cokelat butir, selai atau keju.

Dan, mari membahas lebih khusus tentang wedang tahu, atau yang biasa juga disebut kembang tahu. Makanan ini, sama seperti lunpia, datang dari budaya Tionghoa. Wedang tahu memperlihatkan dengan gamblang betapa kentalnya pencampuran atau akulturasi budaya yang terjadi di Semarang dan, secara umum, di Indonesia.

Tionghoa-Semarang
Di salah satu pojok Pasar Semawis, Ani duduk dengan sabar di balik mangkuk-mangkuk dan sebuah panci besar. Di dalam tendanya tertulis besar "Wedang Tahu".

"Semangkuknya Rp8.000," ujar Ani ketika pembeli menanyakan harga jualannya.

Halaman
123
Tags
Semarang
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help