Kekalahan, Jiwa Besar dan Politik. Apresiasi untuk Catatan Sepakbola Dion DB Putra

Ada perasaan sakit luar biasa saat pengalaman kekalahan menghampiri idealisme kehidupan yang terarah pada hal-hal yang

Kekalahan, Jiwa Besar dan Politik. Apresiasi untuk Catatan Sepakbola Dion DB Putra
ISTIMEWA
Cover Buku Bola Itu Telanjang karya wartawan Pos Kupang, Dion DB Putra (Penerbit Lamalera, 2010)

"Dunia Menemukan Yunani" (halaman 639) juga adalah sebuah tulisan yang menarik, ketika nama besar bukan menjadi ukuran sebuah keberhasilan. Orang bisa sukses dengan tekad yang kuat, kebiasaan positif yang berkarakter dan mentalitas `kuda hitam' yang siap berpacu dalam medan elitisme kehidupan.

Piala Dunia 2018 pun kini sedang mempertaruhkan tim bertabur bintang dengan tim bertabur kekuatan tim. Kompetisi pun sedang dimulai kini.

Berpolitik: Konflik atau Kompetisi

Tahun 2018 terasa begitu panas ketika perhelatan politik menggerus begitu banyak perhatian menuju takhta kekuasaan.

Dinamika itu amat menyeruak emosi personal dan kolektif saat pemilihan umum kepala daerah serentak akhirnya masuk dalam area buka-bukaan dan tidak peduli lagi pada privasi kandidat penguasa, baik pada tingkat kabupaten, provinsi dan nasional.

Tidak mudah menjadi pemilih yang cerdas dan rasional, justru pada saat kita masih sangat terikat pada sentimen kesukuan dan religi. Kita dengan mudah terjebak dalam api konflik yang membakar semangat kebencian dan balas dendam, hingga akhirnya kita masuk dalam politik uang dan politik balas jasa atau balas budi.

Catatan Dion DB Putra dalam bidang sepakbola menghadirkan paradigma kecerdasan rasional dan nurani untuk sanggup mengelola konflik dengan penuh kedewasaan. Narasi sepakbola yang indah dan menawan sungguh mengajarkan nilai sportivitas untuk berani menerima segala bentuk perbedaan dalam pilihan politik pada tahun 2018.

Politisi kita pun memang harus selalu memiliki semangat kompetitif tanpa harus terjebak dalam kebencian dan dendam kesumat yang berkepanjangan. Apakah kita sanggup menghargai perbedaan pilihan dalam kontestasi politik ini? Ataukah kita semakin memperuncing perbedaan lantas saling menghujat dan mencaci maki?

Piala Dunia pun akan segera menghibur kita dalam kemasan audiovisual yang menarik dan mempesona. Sekadar bermetafisika, pesona piala dunia pun harus bisa menghantar kita di tahun politik ini untuk bisa membangun penghargaan yang melampui sekat-sekat kepentingan.

Bola itu telanjang, ketika hati manusia harus bisa mengelola begitu banyak keunikan dan perbedaan sebagai kekayaan. Apakah kita sanggup menjadikan kekayaan sebagai berkat? Sepakbola mengajarkan kita spirit orang kalah yang memenangkan sejarah dengan segala intriknya. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help