Menteri Pariwisata Sebut Tenun Ikat NTT Terbaik di Indonesia

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut tenun ikat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terbaik di Indonesia.

Menteri Pariwisata Sebut Tenun Ikat NTT Terbaik di Indonesia
KOMPAS.COM
Presiden Joko Widodo menghadiri Parade 1001 Kuda Sandelwood dan Festival Tenun Ikat Sumba 2017 di Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Rabu (12/7/2017). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut tenun ikat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terbaik di Indonesia.

Penegasan itu disampaikan Arief, saat memberikan sambutan dalam kegiatan peluncuran empat Top Calendar Of Event Pariwisata Nusa Tenggara Timur 2018, di Balairung Soesilo Sudarman, Kementerian Pariwisata, Kamis (7/6/2018).

Arief mengaku, sudah mengikuti karnaval budaya di Ende dan beberapa kabupaten lainnya di NTT dan provinsi kepulauan itu sangat kaya akan motif tenunan dari berbagai suku.

Baca: Hadiri Wisuda Anak PAUD, Bupati Anton: Memotivasi Anak Usia Dini Sangat Penting

Karena itu, menurut Menpar, tenun ikat khas NTT harus didampingi oleh kurator (pengurus atau pengawas institusi warisan budaya atau seni) yang bagus.

"Saya ikut karnaval di Ende dan tentu harus dikurasi dengan baik karena kalau dari sisi bahan atau fashion tenun NTT itu nomor satu di seluruh Indonesia, jadi karnaval atau fashion diberikan kepada ahlinya," ucap Arief yang disambut tepuk tangan para pejabat dari beberapa kabupaten di NTT.

Menurut Arief, festival tenun Ikat di Sumba pada Juli 2018 harus bagus dan kurasinya pun harus bagus. Desainer atau koreografernya harus tingkat nasional untuk melestarikan tenun ikat ini.

Pelaksanaan kegiatan festival tenun Ikat di Sumba, lanjut Arief, jangan hanya berhenti pada pelaksanaannya saja, tapi harus dilestarikan dan dikembangkan untuk menjadi komersial, sehingga bisa mensejahterakan masyarakat.

"Untuk tindak lanjutnya, maka Badan Ekonomi Kreatif harus turun untuk menginkubasi agar tenun dikembangkan menjadi nilai komersial," katanya. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved