Hidup untuk Aturan atau Sesama, Catatan Menarik Pendeta Eben Nuban Timo

Karena agama menetapkan satu makanan sebagai yang haram, maka sekalipun makanan itu berkhasiat menyelamatkan

Hidup untuk Aturan atau Sesama, Catatan Menarik Pendeta Eben Nuban Timo
ilustrasi

Oleh: Pdt. Dr. Ebenhaizer I Nuban Timo
Staf Pengajar UKSW Salatiga

POS-KUPANG.COM - Sekurang-kurangnya ada dua pandangan tentang kehidupan beragama yang sejati.

Pandangan pertama memahami kehidupan beragama sebagai ketaatan penuh tanpa diskusi terhadap aturan atau hukum-hukum keagamaan, tak peduli efek dari ketaatan itu bagi sesama.

Karena agama menetapkan satu makanan sebagai yang haram, maka sekalipun makanan itu berkhasiat menyelamatkan nyawa seseorang makanan itu tetap harus diharamkan. Ini model beragama legalitas yang disebutkan Imanuel Kant.

Pandangan kedua memahami agama sebagai penguatan komitmen untuk menyelamatkan manusia. Aturan dan hukum beragama perlu, tetapi keselamatan manusia adalah yang terpenting. Aturan menjadi relatif manakala kemanusiaan taruhannya.

Imanuel Kant menyebut model ini moralitas. Berhadapan dengan kewajiban moral terhadap sesama, aspek legalitas menjadi sekunder.

Ketentuan-ketentuan dalam menjalankan agama merupakan permasalahan pelik yang manusia hadapi di berbagai tempat dan masa.

Dalam lingkungan gereja misalnya kita berhadapan dengan permasalahan pelik di sekitar persoalan metode yang benar dalam membaptis.

Ada denominasi kristen yang menetapkan percik sebagai metode yang sah dan juga sasarannya kepada semua golongan usia; tetapi muncul denominasi lain yang mencela metode percik sebagai yang tidak alkitabiah dan sah.

Mereka juga menolak memberikan baptisan kepada anak-anak dengan alasan anak-anak belum bisa mengaku iman. Peliknya masalah baptisan biasanya memuncak pada perpecahan gereja dan melahirkan aliran baru dalam kekristenan.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help