Perawat Wanita Tewas Ditembaki Tentara Israel saat Tangani Pasien Luka di Jalur Gaza

Meski Memakai seragam putih yang menandakan petugas medis, tentara Israel tetap tak pandang bulu menembaki ke arah pengunjuk rasa tersebut.

Perawat Wanita Tewas Ditembaki Tentara Israel saat Tangani Pasien Luka di Jalur Gaza
Razan 

POS-KUPANG.COM - Relawan kesehatan, Razan Ashraf Al Najjar (21) tewas setelah ditembak mati oleh tentara Israel.

Wanita asal Palestina itu harus meninggal dunia saat sedang bertugas di perbatasan jalur Gaza.

Baca: KWI Sebut Umat Katolik Dirugikan Terkait Pelarangan Turis Indonesia oleh Israel

Baca: Prabowo Subianto dan Amin Rais Bertemu Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab di Mekah

Baca: Nasib Anies Baswedan Diputus Pengadilan Senin Depan. Terkait Kasus Apa?

Perawat muda tersebut diketahui berada di kerumunan pengunjuk rasa yang notabene penduduk Palestina.

Razan
Razan 

Dilansir dari laman Iran-daily, kejadian yang berlangsung pada Jumat (1/6/2018) malam itu memang tampak mencekam.

Diberitakan sejumlah pengunjuk rasa datang ke perbatasan tersebut untuk melakukan protes mengenai sengketa wilayah mereka.

Saat itu, Razan diketahui sedang berada di tengah demonstran Palestina yang terluka.

Razan Ashraf Al Najjar
Razan Ashraf Al Najjar (palestinian info)
  1. Namun nahas, meski telah memakai seragam putih yang menandakan petugas medis, tentara Israel tetap tak pandang bulu menembaki ke arah pengunjuk rasa tersebut.

Dan salah satu peluru tersebut nyatanya mengenai dada Razan.

Najjar terluka parah sebagai akibatnya, dan menyerah pada luka tembaknya yang parah tak lama kemudian.

we_are_not_numbers
instagram.com/we_are_not_numbers

Namun klaim yang diajukan oleh pihak militer Israel justru berbeda.

Mereka mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa "ribuan perusuh" berkumpul di lima lokasi di sepanjang perbatasan, "membakar ban yang berdekatan dengan pagar keamanan dan berusaha merusak infrastruktur keamanan".

sahabat.palestina.memanggil
instagram.com/sahabat.palestina.memanggil

Mereka juga mengklaim adanya tembakan yang ditembakkan ke kendaraan militer dan seorang Palestina menyeberang ke Israel, menanam granat dan kembali ke Gaza.

Hal itu membuat tentara Israil mengatakan bahwa mereka berhak bertindak "sesuai dengan aturan keterlibatan".

Sebuah baku tembak pada Selasa malam dimulai dengan rentetan roket dan mortir ke Israel dari Gaza, yang mendorong Israel untuk menanggapi dengan serangan terhadap 65 situs militan di Gaza.

Itu adalah serangan terburuk sejak perang 2014 di Gaza dan diikuti berminggu-minggu demonstrasi mematikan dan bentrokan di sepanjang perbatasan, dimulai pada 30 Maret.

kerusuhan di jalur Gaza (AFP)
kerusuhan di jalur Gaza (AFP)

Konflik Palestina tak kunjung usai

Setidaknya 120 orang Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel sejak "Great March of Return" dimulai di Jalur Gaza pada 30 Maret.

Empat belas anak-anak termasuk di antara orang-orang Palestina yang jatuh, Presstv melaporkan.

Sekitar 13.300 warga Palestina juga menderita luka-luka, 300 di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Baca: 40 Negara Islam Berkumpul. Indonesia Tegaskan Tetap Dukung Palestina Merdeka

Wilayah-wilayah pendudukan telah menyaksikan ketegangan baru sejak Presiden AS Donald Trump pada 6 Desember 2017 mengumumkan pengakuan Washington atas Yerusalem al-Quds sebagai "ibu kota" Israel dan mengatakan AS akan memindahkan kedutaannya ke kota.

Keputusan dramatis itu memicu demonstrasi di wilayah Palestina yang diduduki dan di tempat lain di dunia.

Status Yerusalem al-Quds adalah masalah paling rumit dalam konflik Israel-Palestina selama beberapa dekade.

Orang-orang Palestina melihat Jerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka.

Pada tanggal 17 Mei, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan rezim Israel harus dibawa ke hadapan Pengadilan Pidana Internasional untuk pembantaian Gaza baru-baru ini.

“Israel harus dibawa ke Pengadilan Kriminal Internasional [atas pembunuhan orang-orang Palestina]. Karena pihak ketiga tidak dapat melakukannya, Palestina perlu memulai ini, ”kata Cavusoglu dalam wawancara dengan penyiar negara bagian TRT.

Dalam komunike terakhir yang dikeluarkan setelah pertemuan darurat di Istanbul pada 18 Mei, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengutuk pembantaian 14 Mei puluhan warga Gaza sebagai "kejahatan buas yang dilakukan oleh pasukan Israel dengan dukungan pemerintah AS."

Baca: OMG! Pasukan Israel Tewaskan 55 Warga Palestina. 2.700 Orang Luka. Sungguh Kejam!

Ini juga mendesak PBB untuk "membentuk komite penyelidikan internasional ke dalam kekejaman baru-baru ini di Jalur Gaza, dan memungkinkan komite untuk memulai penyelidikan lapangan."

OKI lebih lanjut menuntut "perlindungan internasional terhadap penduduk Palestina termasuk melalui pengiriman kekuatan perlindungan internasional" dalam menghadapi "kejahatan yang tidak diperiksa" yang dilakukan oleh rezim Tel Aviv. (*)

Editor: Bebet I Hidayat
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved