Hati Cemas dan Saling Curiga, Benarkah Potret Indonesia Hari Ini?

Sejumlah peristiwa kekerasan ini menunjukkan gejala ketidaktaatan warga terhadap pemimpin bangsa dan negara

Hati Cemas dan Saling Curiga, Benarkah Potret Indonesia Hari Ini?
Ilustrasi 

Oleh: Blasius Radja
Magister psikologi, tinggal di Kota Kupang

POS KUPANG.COM -- Akhir-akhir ini muncul kembali sejumlah tindakan kekerasan dalam masyarakat sehingga menciptakan rasa cemas dan takut, kemudian menimbulkan rasa saling curiga antar warga, baik secara komunitas agama, suku, ras dan golongan aktivitas keseharian seperti kelompok ekonomi, politik dan kelompok lain-lainnya.

Kasus kekerasan di Surabaya, Minggu 13 Mei 2018. Aksi pengeboman melanda tiga gereja pada saat ibadah pagi hari dan malam harinya pada tanggal yang sama terjadi lagi peristiwa serupa di bangunan rumah susun di wilayah Sidoarjo.

Bahkan keesokan harinya, Senin 14 Mei terjadi pula pengeboman di depan kantor Polresta Surabaya.

Sejumlah peristiwa kekerasan ini menunjukkan gejala ketidaktaatan warga terhadap pemimpin bangsa dan negara yang sedang mengatur dan menata kehidupan segenap umat manusia dalam negara RI yang bhineka, dari Sabang sampai Merauke, dari utara Sangihe Talaud hingga Pulau Rote di selatan NKRI.

Berbagai tindakan kekerasan yang terjadi saat ini, mungkin berkaitan dengan banyaknya peristiwa kekerasan pada tahun 2000-an, yang pada akhirnya bisa diredam oleh Ibu Megawati selaku presiden kala itu.

Misalnya kekerasan akibat konflik di Mamasa, pembunuhan sadis terhadap sejumlah tokoh pemuda Maluku, perusakan tempat hiburan malam di Jakarta, penutupan jalan akses masuk ke tempat penting seperti sekolah dari agama minoritas di Tangerang, sweeping rumah makan saat puasa, dan berbagai peristiwa tindakan kekerasan lainnya di tanah air kita tercinta ini (Sumber: Kompas 5 November 2004).

Apakah dasar ketidakpuasan, kekecewaan karena ketidakadilan dalam pemerintahan ataukah ada sebab lain sebagai hasrat tersembunyi yang belum terungkap ke permukaan oleh sekelompok orang yang melakukan kekerasan.

Gambaran ini menarik untuk dikaji, sehingga semua elemen masyarakat, baik yang bergerak dalam bidang pemerintahan eksekutif, legislatif, yudikatif, bidang agama, politik, ekonomi dan sebagainya, sangat perlu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam berbagai aspek tindakan pelayanan publik.

Hindari strategi dan taktis politis serta ekonomi yang hanya memperhatikan kepentingan kelompok dan golongan tertentu, sedangkan kelompok lainnya diabaikan karena curiga akibat ketidaksamaan dalam hal tertentu seperti beda iman, suku, ras dan golongan sehingga tercipta sekat pembatas komunikasi bermasyarakat.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help