Teror Mempertebal Iman Kita

Selain itu selama beberapa hari di akhir Mei ini, umat Katolik dari berbagai daerah di NTT menyelenggarakan

Teror Mempertebal Iman Kita
Aksi bom di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) pagi. 

Oleh: Tonny Kleden
Wartawan, mengajar jurnalistik di FISIP Unwira Kupang

POS KUPANG.COM -- Dari sudut pandang penghayatan kehidupan beragama, tahun ini mempunyai nuansa agak istimewa. Pada medio bulan Mei lalu, ketika umat Kristen masih larut dalam masa Paskah dan hendak merayakan Hari Raya Pentekosta, umat Islam tunduk menyembah di hadapan Allah dalam tobat menyongsong Idul Fitri.

Selain itu selama beberapa hari di akhir Mei ini, umat Katolik dari berbagai daerah di NTT menyelenggarakan suatu hajatan rohani bernama Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) tingkat NTT di Kupang.

Sebelumnya, dalam konteks nasional, bangsa ini meratapi tragedi Surabaya dan sejumlah tempat yang didalangi para teroris. Korban berjatuhan akibat aksi bom diri oleh oknum yang datang dari suatu aliran kepercayaan dan keyakinan iman.

Mungkin jauh dari kesadaran setiap kita, tetapi sesungguhnya aneka peristiwa `kebetulan' seperti ini secara tersurat maupun tersirat memperlihatkan betapa peranan agama semakin kuat diyakini sekaligus menggambarkan betapa pentingnya penghargaan terhadap sesama penganut agama lain.

Direnungkan secara serius dan dikritisi secara mendalam, niscaya peristiwa-peristiwa kebetulan ini kembali merumuskan tentang betapa pentingnya dialog antaragama.

Terus terang, tema dialog antaragama bukan lagu baru lagi, sebaliknya telah menjadi klasik pada setiap diskusi atau pembicaraan menyangkut agama.

Tetapi jangan pernah lupa kalau dialog dilakukan secara sungguh sungguh, maka boleh dijamin setiap penganut agama tidak terkurung dalam benteng pemahaman yang sempit tentang agamanya, sekaligus ada kesudian untuk meninggalkan segala lagak triumfalisme dan kecongkakan semu. Karena itu rasanya ada guna-gananya kalau dialog antaragama ditegaskan dan disegarkan kembali.

Harus diakui bahwa dialog yang terjadi ternyata bukan suatu upaya mulus. Selain karena ketidakjelasan memetakan locus sociale sebagai basis dialog, sikap kita terhadap agama lain mempunyai peranan penting dalam menentukan bobot suatu dialog. Hal terakhir ini menyangkut apa yang dinamakan optio fundamentalis (sikap dasar) terhadap agama lain.

Banyak ahli menggolongkan optio fundamentalis terhadap agama agama lain ke dalam tiga paradigma dasar. Ketiga tiganya paling kurang dapat mempengaruhi dan menentukan intensitas suatu dialog.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help