Renungan Ramadan

Puasa dan Integritas

Bukan seberapa besar yang diberikan kepada orang lain tetapi seberapa besar perhatian kita untuk berbagi dengan yang lain.

Puasa dan Integritas

Oleh: KH Dr Cholil Nafis
Ketua Komisi Dakwah MUI

UNGKAPAN integritas seringkali kita dengar pada beberapa tahun belakangan ini, bahkan pengangkatan pejabat dan petinggi negeri diawali dengan penandatanganan pakta integritas. Sebenarnya integritas menurut kamus besar Bahasa Indoenesia adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran.

Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang. Lawan dari integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik). Seseorang dikatakan mempunyai integritas apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya.

Kualitas integritas terlihat pada keutuhan yang berasal paduan kejujuran dan konsistensi. Menurut Phill Pringle, pantulan orang berintegritas terlihat pada beberapa hal berikut, yaitu; (1) sikap tidak mementingkan diri sendiri, (2) dibangun di atas dasar disiplin, (3) kekuatan moral yang terbukti tetap benar di tengah api godaan, (4) kemampuan untuk bersabar ketika hidupnya tidak berjalan mulus, (5) tahan uji yang memerlukan prilaku yang dapat diduga

Hal lainnya yaitu (6) kekuatan yang tetap teguh sekalipun tidak ada yang melihat, (7) menepati janji-janji, bahkan ketika merugikan dirinya, (8) tetap setia kepada komitmen, bahkan ketika itu tidak nyaman, (9) tetap teguh pada nilai-nilai tertentu meskipun dirasakan lebih populer untuk mencampakkannya. Selanjutnya, (10) hidup dengan keyakinan, ketimbang dengan apa yang disukai, (11) fondasi dari kehidupan, jika integritas baik, maka kehidupan baik, begitu pun sebaliknya, dan (12) dibentuk melalui kebiasaan.

Buah dari sikap berintegritas akan dipercaya oleh orang sekelilingnya, komunitasnya, dan siapapun yang mengenal karakternya, karena ucapannya juga menjadi tindakannya. Orang yang berintegritas karena mulut dan hatinya tidak berbeda dan bertengkar.

Tiada pertentangan sikap karena memiliki pendirian dan punya komitmen dalam setiap amalnya. Tipe orang yang berintegritas telah digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS Fushilat [41]: 30).

Puasa menjadi pendidikan kemanusiaan untuk mencetak diri yang berintegritas. Dalam ibadah puasa mendidik nilai dan prinsip mulia, yaitu keimanan dan keimanan sehingga rela meninggalkan makan, minum dan hubungan badah dengan pasangannya sehari penuh demi nilai dan keyakinan yang mantap pada dirinya.

Tetap teguh

Kenikmatan badan yang dibutuhkan sementara waktu ditinggalkan demi patuh kepada nilai dengan teguh kepada prinsip beragama. Implemetasinya dalam ibadah puasa itu menyatukan isi hati dengan komitmen perbuatan tindakan nyata.

Niat di malam hari selama bulan Ramadhan, kemudian direalisasikan selama sehari penuh bepuasa meskipun tak ada orang yang tahu dan tak ada yang memperhatikan, tetap teguh pada komitmen prinsip berpuasa yang telah diniatkan malam harinya.
Ini bentuk latihan integritas untuk menyatukan ucapan dengan perbuatan dan berpegang tegung pada prinsip dan nilai yang diyakini baik untuk dijalankan.

Saat ibadah puasa sangat dianjurkan oleh Nabi SAW untuk memberi makanan atau minuman kepada orang yang berbuka puasa. Pahala orang yang memberi buka sama dengan ganjaran orang yang menjalankan ibadah puasa meskipun hanya seteguk air atau sebiji kurma.

Inilah nilai integritas yang dilatihkan kepada orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Bukan seberapa besar yang diberikan kepada orang lain tetapi seberapa besar perhatian kita untuk berbagi dengan yang lain. Sikap orang yang berintegritas itu adalah kesanggupan diri untuk berkorban demi menolong dan membahagiakan orang lain. Inilah latihan kemanusiaan untuk menjadi manusia yang berintegritas dalam madrasah bulan Ramadhan. (*)

Editor: Bebet I Hidayat
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved