Renungan Ramadan

Menangkal Radikalisme

Apabila ada anggota keluarga membawa paradigma radikal dapat diingatkan dan dapat kembali seperti semula.

Menangkal Radikalisme

Oleh: KH Dr Cholil Nafis
Ketua Komisi Dakwah MUI

KASUS bom bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu cukup mengejutkan. Selain karena berdekatan waktunya dengan kasus kerusuhan narapidana dan tahanan kasus teroris di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, para pelakunya merupakan satu keluarga yang melibatkan istri dan anak-anak.
Anak terkecil (bungsu) yang masih berusia 9 tahun juga dilibatkan dalam tindak terorisme yang sangat mengerikan. Tentu kejadian tersebut menyedot perhatian, sekaligus keprihatinan mendalam dari banyak pihak.
Mengapa orangtua yang seharusnya membimbing justru yang menghancurkan mereka. Lalu muncul pertanyaan, ada apa dengan keluarga itu atau keluarga lain yang memiliki spirit sama dengan mereka?
Bukankah keluarga adalah sekolah pertama (madrasatul ula) bagi pendidikan anak-anaknya? Bukankah dari keluarga akan lahir generasi-generasi penerus yang akan menjadi tulang punggung bangsa dan negaranya? Jika mereka 'mati dini' karena bunuh diri berdasarkan keyakinan ekstrem, berarti tujuan berkeluarganya tidak tercapai.
Problem yang mengemuka dari kasus tersebut adalah terorisme dan bunuh diri yang melibatkan anggota keluarga. Ini artinya, paham radikal dan tindakan terorisme yang mengatasnamakan agama telah merasuk pada wilayah sangat dekat dengan kita.
Keluarga adalah lingkungan paling dekat dengan area 'secret'. Dalam Al-Quran maupun Hadits banyak menekankan pentingnya umat Islam menjaga keluarga, sebagaimana QS: Al-Tahrim: 6.
"Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Dalam ayat tersebut secara jelas Allah memerintahkan agar kaum mukmin menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka. Lalu bagaimana caranya? Abdullah bin Abbas RA berkata, "Lakukanlah ketaatan kepada Allah dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allah akan menyelamatkanmu dari neraka."
Perintah untuk menjaga keluarga dari api neraka memiliki makna luas. Neraka bisa juga dimaknai sebagai simbol kesengsaraan, kehinaan, dan kehancuran. Termasuk dalam konteks saat ini agar setiap keluarga memproteksi semua anggota keluarga dari paham dan tindak terorisme yang merusak sendi-sendi peradaban. Asumsi atau keyakinan peledakan diri untuk mencapai jalan Allah di negeri damai adalah ilusi beragama yang tidak ada referensinya.
Empat langkah
Oleh karena itu, agar keluarga menjadi tempat bersemainya generasi bermutu dan terhindar dari paham-paham radikalisme yang dapat merusak citra umat beragama, berikut ini beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh keluarga Indonesia.
Pertama, setiap keluarga, khususnya ayah dan ibu (suami-istri) harus memiliki pemahaman yang sama dalam membina keluarga, yaitu sebagai tempat penempaan diri setiap anggota. Meski keluarga memiliki struktur sosial, harus ditempatkan sebagai media bersama untuk proses 'menjadi. Artinya, keluarga sebagai tempat penggemblengan mental-spiritual anggota dimana antara satu dengan yang lain bisa saling belajar.
Apabila ada anggota keluarga membawa paham atau aliran yang aneh atau berparadigma radikal dapat diingatkan dan dapat kembali seperti semula.
Kedua, dalam setiap keluarga harus memiliki early warning system (EWS) atau alarm sejak dini terhadap sepak terjang anggota-anggotanya. Agar EWS ini berfungsi maksimal, keluarga harus membangun komunikasi saling percaya antar anggota-anggotanya.
Ketiga, dalam memilih tempat belajar (pendidikan) agama atau memilih guru agama (ustadz) bagi keluarga yang akan mengajarkan dan menuntun agama harus dipastikan memiliki geneologi (silsilah) keilmuan yang jelas. Setidaknya empat langkah di atas dapat menjaga keluarga dari paham-paham ekstrem yang bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Apalagi tantangan kita saat ini semakin berat seiring perkembangan teknologi informasi yang semakin memudahkan bagi siapapun mendapatkan akses secara bebas. Wallahu a'lam. (*)

Editor: Bebet I Hidayat
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved