Ketika OMK Paroki Naesleu Membuat Film Setetes Embun di Kampung Adat

ANGIN kencang dan hawa dingin terasa menusuk hingga tulang saat berada di Puncak Bukit Fulan Fehan, tidak mengurangi antusias

Ketika OMK Paroki Naesleu Membuat Film Setetes Embun di Kampung Adat
POS KUPANG
POS KUPANG/ALFRED DAMA Proses pembuatan Film Setetes Embun di Kampung Adat karya OMK Paroki Naesleu Kefamenanu 

Makna film ini tentang dua pandangan yang berbeda antara orang tua dan kaum muda. Para orang tua menganggap HP merupakan benda yang tidak penting, sementara kaum muda menganggap HP adalah alat komunikasi yang penting.

ANGIN kencang dan hawa dingin terasa menusuk hingga tulang saat berada di Puncak Bukit Fulan Fehan, tidak mengurangi antusias anak muda anggota Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Yohanes Pemandi Naesleu-Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Jumat (11/5/2018).

Para pemuda dan remaja itu begitu antusias dengan aktivitas mereka dalam sesi pengambilan gambar untuk film pendek berjudul Setetes Embun di Kampung Adat.

Semua pemeran dalam film yang direncanakan berdurasi 30 menit ini adalah personil OMK Naesleu. Bahkan sang sutradara Nancy Sanbein dan penulis naskah Romo Ino
Nahak Berek, Pr, merupakan bagian dari OMK Naesleu.

Demikian juga para juru kamera dan sound man hingga lighting ditata sendiri oleh para personil OMK Naesleu.

POS KUPANG/ALFRED DAMA
Proses pembuatan Film Setetes Embun di Kampung Adat karya OMK Paroki Naesleu Kefamenanu. Pengambilan gambar di Kampung Pebulak, Kecamatan Lamaknen Selatan
POS KUPANG/ALFRED DAMA Proses pembuatan Film Setetes Embun di Kampung Adat karya OMK Paroki Naesleu Kefamenanu. Pengambilan gambar di Kampung Pebulak, Kecamatan Lamaknen Selatan (POS KUPANG)

Menjadi luar biasa dalam pembuatan film ini adalah hampir semua pemain baru pertama berakting di depan kamera. Mereka tidak nampak canggung, bahkan terlihat begitu bersemangat. Gaya mereka di depan kamera pun layaknya para bintang film. Para remaja dan OMK ini mampu menerjemakan arahan sang sutradara dalam bentuk akting. Padahal, mereka bukan lulusan sekolah akting atau seni drama.

Spot pengambilan gambar film ini di lokasi-lokasi wisata yang secara langsung dan tidak langsung sudah mempromosikan pariwisata di Kabupaten Belu.

Spot-spot pengambilan gambar antara lain Pasar Lama di Kota Atambua, Kampung Adat Nualaen, Padang Kaktus di Bukti Fulan Fehan dan Benteng Lapis Tujuh di Fulan Fehan, serta Air Terjun Mauhalek.

Pegambilan gambar juga dilakukan di Jembatan Lahurus dan jalan tanjakan di Weluli, Kecamatan Lamaknen.
Rm. Ino saat berbincang dengan Pos Kupang mengatakan, banyak kekurangan dalam proses pengambilan gambar film tersebut. Di antaranya kamera terbatas, hanya dua, namun yang bisa digunakan maksimal hanya satu unit kamera.

"Ini yang membuat kami harus melakukan pengambilan gambar berulang-ulang sehingga memakan waktu. Tapi anak-anak punya semangat sehingga kekurangan kita ini bisa diatasi. Ke depan kami akan berupaya tambah kamera," kata Rm. Ino.

Halaman
12
Penulis: Alfred Dama
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help