Kadis Pariwisata Nagekeo Mengaku Kesulitan Promosikan Tinju Adat Etu

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo, Ndona Andreas Corsini, mengatakan tinju adat atau etu masih populer bagi masyarakat Nagekeo.

Kadis Pariwisata Nagekeo Mengaku Kesulitan Promosikan Tinju Adat Etu
POS-KUPANG.COM/GORDI DONOFAN
Suasana tinju adat atau etu yang digelar di kampung adat Focolodorawe di Kabupaten Nagekeo, Sabtu (12/5/2018). 

POS-KUPANG.COM | MBAY - Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo, Ndona Andreas Corsini, mengatakan tinju adat atau etu masih populer bagi masyarakat Nagekeo. Tinju adat memiliki makna mendalam bagi setiap kelompok masyarakat atau rumah adat yang melaksanakannya.

"Etu sudah menjadi aset nasional. Sudah ada SK menteri dan itu ada di Dinas P dan K Kabupaten Nagekeo," jelas Ndona saat ditemui Sabtu (19/5/2018). "Etu ini warisan budaya. Jadi event itu kami promosikan sebagai obyek wisata. Kan banyak kampung adat yang menggelar tinju adat," katanya lagi.

Baca: Lelaki Ini Bangga Anaknya Bisa Ikut Tinju Adat Nagekeo, Ini Alasannya

Meski menjadi aset nasional, Ndona mengaku kesulitan mempromosikan etu di Nagekeo. Ia beralasan tanggal pelaksanaan tinju adat tidak menentu. "Kesulitan kita di Nagekeo adalah kepastian tanggal, itu yang sulit. Karena mereka (kelompok adat) menunggu posisi bulan. Sementara baru satu kampung adat yang pasti yaitu di Boanio," jelas Ndona.

Ndona mengatakan, waktu pelaksanaan tinju adat oleh komunitas berbeda waktu. Ada yang menggelar bulan Mei, Juni, Juli dan ada juga bulan September. Pihaknya sudah menggelar pertemuan dengan para tokoh adat membahas tentang kegiatan etu, tapi masih kesulitan dalam menetapkan kalender yang terjadwal.

"Kami pernah rapat bersama para tokoh adat untuk meminta mereka memastikan tanggalnya sehingga kita promosikan. Tamu bisa merencanakan jauh hari untuk datang di Nagekeo menyaksikan tinju adat," ujar Ndona.

Kendala lainnya, lanjut Ndona, biro perjalanan pariwisata di Nagekeo masih kurang. Meski demikian, pemerintah berupaya tetap melestarikan budaya etu sehingga tidak punah. Upaya yang sedang berjalan yakni menata kampung-kampung adat yang ada.
"Pokoknya ada sekian belas kampung adat ditata, sehingga kampung tersebut kelihatan bagus atau laik menggelar acara adat," kata Ndona.

Ndona membenarkan ada keterlibatan anak-anak kecil dalam acara etu. Bahkan ada anak-anak menjadi peserta tinju adat. Menurutnya, hal itu bagian dari pendidikan budaya yang diwariskan oleh para orang tua.

Ia menjelaskan, ada kampung adat yang menggelar tinju adat bagi anak-anak sebelum tinju adat orang dewasa. Kampung yang lain pagi hari anak-anak, makin siang mulai remaja dan makin siang baru orang dewasa. Itu hampir ada di setiap kampung adat.

"Keterlibatan anak kecil menyaksikan tinju adat bagian dari warisan. Dulu saya pernah minta kalau ada pesta adat di kampung sekolah libur supaya anak-anak mengikuti acara adat. Andaikan mereka tidak menyaksikan siapa lagi yang akan meneruskan ke depannya. Itu bagian dari pewarisan sehingga anak-anak dilibatkan," kata Ndona.
Ndona berharap lokasi tinju adat jangan semenisasi. "Biarkan tempat itu asli sehingga laik untuk menggelar etu," katanya.

Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, mengapresiasi masyarakat yang masih mempertahankan etu. "Warisan budaya turun- temurun wajib dilestarikan. Tinju adat setiap kampung atau suku berbeda-beda. Tahapannya juga berbeda. Ritual berbeda. Kontribusi pemerintah selama ini membangun infrastruktur untuk memperlancar kegiatan tinju adat seperti bangun jalan masuk kampung adat, pelataran atau menyiapkan penerangan untuk kampung adat itu," kata Kristianus, Jumat (18/5/2018).

DPRD Nagekeo, lanjutnya, mendukung pelestarian budaya setiap suku yang ada. Ia mengingatkan pemerintah memperhatikan pembangunan infrastruktur. (*)

Penulis: Gordi Donofan
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help