Sidang Kasus Korupsi Pembangunan Unit Sekolah Baru SMPN Inepare, Saksi Ahli Tak Hadir

Tipikor Kupang kembali mengelar sidang kasus korupsi pembangunan unit sekolah baru SMPN Inne Pare di Desa Nida, Kecamatan Detukeli, Ende

Sidang Kasus Korupsi Pembangunan Unit Sekolah Baru SMPN Inepare, Saksi Ahli Tak Hadir
POS-KUPANG.COM/Tommy Mbenu Nulangi
Terdakwa ksus korupsi pembangunan unit sekolah baru SMPN Inepare Arnoldus Galu Ratu saat menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Kupang, Selasa (15/5/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang kembali mengelar sidang kasus korupsi pembangunan unit sekolah baru SMPN Inne Pare di Desa Nida, Kecamatan Detukeli, Ende, Selasa (25/5/2018) sore.

Sidan kali ini rencananya menghadirkan saksi ahli yakni Dr. M. Achsin dari Universitas Brawijaya Malang. Namun saksi tersebut tak dapat hadir karena memberikan materi kurator di Jakarta.

Meski saksi ahli tidak hadir, sidang kasus pembangunan unit sekolah baru dengan anggaran sebesar Rp 1,8 miliar yang bersumber dari bantuan pemerintah Australia (Blok Grand) tersebut tetap berjalan.

Dalam persidangan terdakwa Arnoldus Galu Ratu mengaku, total uang yang dikeluarkan untuk diserahkan oleh terdakwa kepada Mosalaki sebesar Rp 40 juta. Uang tersebut sebagiannya digunakan untuk upacara adat.

"Kemudian saya pakai Rp 3 juta untuk bayar uang honor guru," kata terdakwa Arnoldus yang didampingi kuasa hukumnya Simon Seto, S.H dan Yohanes Stefanus Nando, S.H,. M.H.

Menurut Arnoldus, sebagai kepala sekolah, ia tidak mengetahui persis secara teknis pembangunan. Namun yang ia tau terkait dengan peekembangan fisik berdasarkan laporan yang disampaikan oleh konsultan.

"Karena menurut konsultan pengawas, pengerjaan fisik sudah seratus persen," kata Arnoldus.

Meski demikian, Hakim Ketua, Muhamad Soleh, mengatakan, dakwaan yang disampaikan jaksa, bahwa kerugian negara yang ditimbulkan oleh terdakwa sebesar Rp 243 juta.

Atas kerugian tersebut, terdakwa Arnoldus keberatan dengan peehitungan kerugian yang didakwakan kepadanya. Menurutnya, ia tidak pernah berniat untuk memperkaya diri.

"Saya dulu guru, saya tidak pernah berniat untuk memperkaya diri. Saya banyak kasih pinjam uang saya. Saya dituduh bersalah makan uang 200san juta. Saya didakwa terima fee," kata Arnoldus sambil menangis.

Berdasarkan pantauan POS-KUPANG.COM, jalannya sidang dipimpin oleh hakim Ketua Muhamad Soleh, hakim anggota yakni Gustaf Marpaung dan Ali Muktoro. (*)

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help