Melawan Radikalisme dengan Literasi Medsos

Kecaman yang sama juga dilakukan oleh para netizen melalui media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter dan Instagram.

Melawan Radikalisme dengan Literasi Medsos
net
ilustrasi 

Oleh: Fredy Saudale
Dosen FST Undana Kupang

POS KUPANG.COM - Indahnya kedamaian dalam kebhinekaan dan kuatnya persatuan dan kesatuan bangsa kita kembali dicederai oleh teror bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia dan Gereja Pantekosta di Surabaya pada hari Minggu pagi 13 Mei 2018.

Presiden Joko Widodo mengutuk aksi ini sebagai kejahatan yang sangat biadab terhadap kemanusiaan. Para pemimpin lintas umat juga mengecam tindakan kekerasan tersebut sebagai perilaku yang tidak didasarkan atas ajaran agama apapun.

Kecaman yang sama juga dilakukan oleh para netizen melalui media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Beberapa gambar meme dibuat mewakili perasaan atau ekspresi yang tidak hanya mengutuk aksi teror bom tersebut tapi juga menyulut semangat nasionalisme melawan terorisme.

Baca: BREAKING NEWS : Terjadi Baku Tembak Polisi dan Terduga Teroris di Surabaya. Satu Orang Tewas.

Tagar seperti #KamiTidakTakut, #BersatuLawanTerorisme, #NKRIhargaMati menyebar luas sebagai bentuk upaya kontra radikalisme. Satu gambar meme bertuliskan "Tidak Semua Teroris Bertugas di Lapangan, Ada Juga Yang Bertugas di Media Sosial" mengingatkan kembali bahaya radikalisme di medsos.

Radikalisme di medsos

Kelompok radikal seperti ISIS telah dikenal memanfaatkan teknologi digital, medsos dan internet sebagai platform upaya teror mereka. Internet dan medsos dimanfaatkan sebagai media propaganda, rekruitmen, komunikasi dan penyebaran ujaran kebencian (hate speech) yang berujung aksi teror.

Mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo pada acara deklarasi anti radikalisme dan terorisme oleh sekitar 3.000 perguruan tinggi se-Indonesia di Nusa Dua, Bali, (26/9/2017), "inflitrasi ideologi" radikalisme dan terorisme dilakukan melalui pendekatan yang baru, personal, halus dan tidak disadari dengan memanfaatkan peran medsos yang begitu bebas.

Berdasarkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melaporkan terdapat sekitar 81,1 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2014, dimana 49 persennya adalah kaum muda dan anak-anak yang rentan terhadap pengaruh radikalisasi melalui medsos (The Jakarta Post, 10/12/2015).

Internet dan Otak

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help