Pendidikan dan Spiritualitas Polisi. Begini Seharusnya!

Tulisan ini tidak mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Itu adalah ranah hukum dan ranah etika moral.

Pendidikan dan Spiritualitas Polisi. Begini Seharusnya!
ilustrasi

Oleh: Dr. Watu Yohanes Vianey, M.Hum
Staf Pengajar Unwira Kupang

POS KUPANG.COM -- Fakta dan fenomena adanya konflik antarmasyarakat adat dan pihak keamanan di NTT bukan hal yang baru, walaupun bersifat kasuistik. Kasus-kasus itu menjadi viral di media sosial. Terutama kasus yang menyentuh hak asasi manusia, dalam hal ini adalah hak hidup, yaitu masalah kematian akibat luka penembakan.

Tulisan ini tidak mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Itu adalah ranah hukum dan ranah etika moral. Tulisan ini lebih menyoroti ranah spiritualitas para aparat penegak hukum dan ketertiban hidup bermasyarakat dalam menghadapi masalah kamtibmas pada umumnya.

Apa itu spiritualitas? Spiritualitas berasal dari kata Latin "Spiritus" artinya roh. Spiritualitas adalah kehidupan manusia yang menekankan aspek rohani dalam jatidirinya.

Karena secara triadik, unsur jati diri manusia itu terdiri dari unsur tubuh, jiwa dan unsur roh sebagaimana ditekankan Paulus dalam 1 Tesalonika 5:23.

Maka makna spiritualitas itu berkaitan dengan semangat hidup dalam praktik dan nilai relasi manusia (baca: Polisi) dengan jatidirinya, yang terbuka dan terhubung secara bathin dengan Yang Sakral, yaitu Tuhan Yang Mahaesa sebagaimana termuat dalam konstitusi NKRI, dalam rangka perjuangan meraih derajat hidup rohani yang sempurna.

Bagaimana usaha kita semua dan usaha untuk menjadi polisi yang hidup rohaninya sempurna, itulah perjuangan yang terhubung dengan apek spiritualitas.

Dalam konteks kebudayaan di NTT, misalnya di Ngada, makna spiritualitas seperti ini terhubung dengan konsep kejiwaan. Dalam tradisi lokal, konsep kejiwaan manusia mengandung unsur kejiwaan yang baik yang disebut waka dan kejiwaan yang jahat yang disebut wéra.

Unsur kejiwaan itu terdiri dari unsur pikiran (thinking), perasaan (feeling) dan unsur keinginan (weeling). Pikiran yang positif (positive thinking), perasaan yang positif (positive feeling) dan keinginan yang positive (positive weeling) itulah yang disebut jiwa yang baik atau waka. Hal mana dalam tradisi Kejawen disebut semangat "jiwa karsa".

Maka pengolahan nilai spiritualitas kepolisian, hendaknya terarah pada semangat perjuangan untuk hidup sempurna sebagai anggota Polri dengan memurnikan jiwa karsanya yang baik atau jiwa karsa yang positif.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help