Ini Cara Menghargai Budaya dan Bahasa Menurut Pendeta Mery Kolimon

Budaya sebagai salah satu sumber teologi harus benar-benar dipercakapkan dengan Alkitab dan tradisi-tradisi Kristen yang ada

Ini Cara Menghargai Budaya dan Bahasa Menurut Pendeta Mery Kolimon
pos kupang.com maria eno toda
Pdt. Merry Kolimon 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM Maria A E Toda

POS-KUPANG.COM|KUPANG- Memasuki bulan Bahasa dan Budaya Mei 2018 Ketua Majelis Sinode GMIT pdt. Mery Kolimon melalui surat Gembalanya mengajarkan masyarakat untuk menghargai budaya dan bahasa itu sendiri.

Ia mengatakan cara menghargai bahasa dan budaya adalah selalu mendialogkan dan memanfaatkannya sebagai sarana pelayanan.

" Berbagai ornamen budaya setempat, seperti alat musik, nyanyian, syair, tarian, tenunan, patung dan ukiran, termasuk mimik dan bahasa tubuh, perlu dibiasakan pemanfaatannya dalam pelayanan. Pengembangan liturgi kotekstual dengan menggunakan ornamen budaya setempat merupakan ekspresi iman yang sah dalam rangka merayakan kehadiran dan karya Allah dalam konteks kebergaman umat," ujar Mery.

Terkait dengan penggunaan liturgi kontekstual dalam rangka perayaan Bulan Bahasa dan Budaya selama ini, ada banyak masukan yang baik dan membangun.

Inti dari masukan itu jelas Mery adalah kita harus berhati-hati agar pengembangan litrugi kontekstual tidak menjadi alat eksploitasi terhadap budaya lokal dan peribadahan menjadi sekedar ajang pertunjukkan budaya. Artinya, pengembangan liturgi kotekstual harus menjadi bagian dari upaya berteologi yang serius.

" Budaya sebagai salah satu sumber teologi harus benar-benar dipercakapkan dengan Alkitab dan tradisi-tradisi Kristen yang ada sehingga melahirkan ekspresi iman yang relevan bagi pergumulan umat sekarang ini," lanjut Mery.

Berbagai agenda strategis terkait isu lingkungan dan kemanusiaan seperti bencana kekeringan dan penyempitan hutan, krisis pangan dan gizi buruk, migrasi tenaga kerja dan perdagangan orang, tingginya angka putus sekolah dan pengangguran, maraknya kekerasan dan korupsi, memerlukan upaya berteologi yang dinamis dan kreatif.

Pengembangan liturgi kontekstual, dengan melibatkan bahasa dan budaya lokal, terutama dimaksudkan untuk mendorong keterlibatan gereja secara efektif dalam menggumuli isu-isu tersebut.

Selama ini tambahnya, di banyak jemaat GMIT, ekspresi budaya justru tampak pada bulan Oktober yang merupakan bulan keluarga GMIT. Padahal tradisi merayakan bulan Mei sebagai Bulan Bahasa dan Budaya. Mestinya, pelayanan bernuansa etnik berlangsung pada bulan Mei, bukan pada bulan Oktober. "

Dalam rangka perayaan Bulan Bahasa dan Budaya tahun 2018 ini kami telah menyiapkan beberapa produk liturgi berupa
Tata Kebaktian Jemaat dan Kerangka Khotbah," tuturnya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya dimana produk-produk itu dihasilkan dari kerja-kerja yang terkoordinasi secara sinodal, pada tahun ini kegiatan pengolahan bahan-bahan liturgis dilakukan di 8 teritori pelayanan GMIT.

Berdasarkan peta pelayanan GMIT, Majelis Sinode membagi 8 tim teritori, masing-masing teritori Kupang daratan dan Semau, teritoti TTS, teritori TTU dan Belu, Teritori Flores, Teritori Sumbawa, teritori Sabu, teritori Rote, dan teritori Alor.

Ada juga pengakuan iman, Doa Bapa Kami, dan lain-lain. Bahkan ada rekaman video kebaktian bernuansa etnik yang diselenggarakan di beberapa jemaat GMIT. "

"Semua bahan itu dapat dimanfaatkan atau diolah untuk menghasilkan bentuk-bentuk liturgi kebaktian yang dapat dipakai di tiap jemaat," pungkas Mery.(*)

Baca: WOW! Tiket Pesawat Labuan Bajo - Kupang Naik Drastis dari Rp 400 Ribu Menjadi Rp 1 Juta

Tags
GMIT
budaya
Penulis: Maria Enotoda
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved