Kabupaten Lembata Kategori Daerah Merah Filariasis, Ini yang Harus Dilakukan untuk Menangkalnya

Sampai saat ini Lembata masih menjadi daerah merah penyakit kaki gajah (filariasis) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Kabupaten Lembata Kategori Daerah Merah Filariasis, Ini yang Harus Dilakukan untuk Menangkalnya
Net
Ilustrasi penderita penyakit kaki gajah 

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA – Sampai saat ini Lembata masih menjadi daerah merah penyakit kaki gajah (filariasis) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk mencegah menularnya penyakit tersebut, masyarakat harus mengonsumsi obat filariasis.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit (P3) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr. Geril Huar Noning, dalam Rapat Evaluasi Pelaksanaan Pemberian Obat Pencegah Massal (POPM) Tingkat Kabupaten Lembata di Hotel Olympic Lewoleba, Jumat (4/5/2018).

Rapat evaluasi tersebut dihadiri oleh para camat dan para kepala puskesmas se-Kabupaten Lembata, serta sejumlah undangan lainnya.

Rapat itu diselenggarakan setelah tiga tahun pemerintah Lembata mewajibkan masyarakat berusia 2 tahun – 70 tahun menelan pil pencegah penyakit itu.

Dokter Geril Huar Noning (kanan) saat rapat evaluasi pelaksanaan pemberian obat pencegah massal (POPM) penyakit kaki gajah di Hotel Olympic Lewoleba, Jumat (4/5/2018).
Dokter Geril Huar Noning (kanan) saat rapat evaluasi pelaksanaan pemberian obat pencegah massal (POPM) penyakit kaki gajah di Hotel Olympic Lewoleba, Jumat (4/5/2018). (POS-KUPANG.COM/FRANS KROWIN)

Geril mengatakan, pada tahun pertama (2015) dilaksanakan bulan eliminasi kaki gajah, masyarakat yang patuh akan imbauan itu mencapai 85,7 persen. Mereka menelan obat yang dibagikan pemerintah.

Namun pada tahun 2016 lalu, persentase keikutsertaan masyarakat dalam program tersebut menurun menjadi 80,21 persen.

Sementara pada tahun 2017 lalu, masyarakat yang  menelan obat pencegah kaki gajah  naik lagi menjadi 82,88 persen.

Meski ada penambahan jumlah masyarakat yang mengonsumsi obat tersebut, lanjut Geril, secara umum Lembata tidak mencapai target. Karena target yang telah dipatok pemerintah minimal 85 persen.

“Sekarang ini ada banyak hal yang membuat masyarakat enggan mengonsumsi obat pencegah penyakit kaki gajah. Salah satunya adalah masyarakat beralasan telah terlalu banyak minum obat sehingga mereka jenuh untuk mengonsumsi obat yang ini lagi,” tuturnya.

Tapi, lanjut dia, pihaknya berharap masyarakat tetap mengonsumsi obat tersebut sesuai saran dokter. Pasalnya, obat tersebut sangat baik untuk kesehatan. Artinya, dengan mengonsumsi obat tersebut, masyarakat dijauhkan dari penyakit kaki gajah.

Filariasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing filaria. Penyakit ini dapat menyerang hewan maupun manusia.

Parasit filaria memiliki ratusan jenis, tapi hanya 8 spesies yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. (*)

(*)

Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help