Ternyata Kasus Pencurian Posisi Teratas di Lembata. Ini Faktor Pemicu

pencurian merupakan kasus terbanyak disusul tindakan penganiayaan dan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

Ternyata Kasus Pencurian Posisi Teratas di Lembata. Ini Faktor Pemicu
pos kupang.com, frans krowin
Wakapolres Lembata, Kompol Riwu Lambertus saat memberi arahan kepada para buruh Pelabuhan Laut Lewoleba pada Hari Buruh Internasional di Lapangan Harnus 16 Lewoleba, Selasa (1/5/2018) 

Laporan Wartawan POS KUPANG.COM, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA - Kasus pencurian menempati posisi teratas dalam tindak pidana di Kabupaten Lembata. Posisi berikutnya adalah penganiayaan dan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Hal tersebut diungkapkan Wakapolres Lembata, Kompol Riwu Lambertus saat memberikan arahan kepada para buruh Pelabuhan Lewoleba saat Hari Buruh Internasional yang digelar buruh TKBM di Lapangan Harnus 16 Lewoleba, Selasa (1/5/2018).

"Di daerah ini, pencurian merupakan kasus terbanyak disusul tindakan penganiayaan dan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Karena itu saya minta semua buruh agar tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum," ujarnya.

Kompol Riwu Lambertus juga mengatakan, semua kasus pencurian kini sedang ditangani penyidik. Pihaknya berharap para buruh senantiasa menjaga keamanan sehingga suasana pelabuhan tetap kondusif.

Ia juga mengingatkan para buruh di Pelabuhan Lewoleba agar tidak melakukan perbuatan yang merugikan pihak lain. Misalnya para buruh tidak boleh mencuri. Karena perbuatan itu akan merugikan pihak lain.

Jika ada oknum buruh dilaporkan melakukan tindakan pencurian, maka nantinya oknum tersebut akan berhadapan dengan aparat penegak hukum. Apalagi saat ini polisi terus memerangi tindakan pencurian.

"Kalau berurusan dengan kepolisian, maka oknum bersangkutan tentu akan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor polisi. Ujung-ujungnya tindakan itu merugikan buruh bersangkutan karena tidak bisa bekerja seperti hari-hari sebelumnya," ujar Riwo Lambertus.

Karena itu, lanjut dia, para buruh diminta untuk bekerja jujur dan penuh tanggung jawab. Kejujuran dalam bekerja akan menuai kepercayaan. Bila majikan telah menaruh kepercayaan, maka hal itu tentu akan berdampak baik terhadap pendapatan.

Para buruh juga diminta untuk tidak melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Itu berarti ibu-ibu juga harus mengelola secara baik pendapatan yang diperoleh suami. Bila salah kelola maka bisa mengundang keributan dalam rumah tangga.

"Jadi saya minta para buruh dan keluarga agar saling mendengar satu sama lain. Sikap ini akan menjauhkan keluarga dari tindakan KDRT dan perbuatan lainnya. Kalau kita saling mendengar maka situasi dalam rumah akan baik walau dihimpit kekurangan," ujar Riwu. (*)

Baca: Warga Wologai-Ende Senang Tidak TerIsolasi Lagi. Ini Penyebab Keterisolasian

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved