Jaksa Hadirkan 4 Saksi Dalam Sidang Kasus Tambak Garam di Sabu Raijua. Siapa Saja Mereka?

Pengadilan Tipikor Kupang menggelar sidang kelima kasus korupsi pembangunan tambak garam di Kabupaten Sabu Raijua, Senin (30/4/2018) sore.

Jaksa Hadirkan 4 Saksi Dalam Sidang Kasus Tambak Garam di Sabu Raijua. Siapa Saja Mereka?
POS-KUPANG.COM/Tommy Mbenu Nulangi
Para saksi mengucapkan janji sebelum persidangan dimulai, di Pengadilan Tipikor Kupang, Senin (30/4/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang menggelar sidang kelima kasus korupsi pembangunan tambak garam di Kabupaten Sabu Raijua, Senin (30/4/2018) sore.

Sidang kali ini menghadirkan empat orang saksi, yakni Nikodemus Tari selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Jupliana Siokain selaku bendahara, Melianus Tupamahu selaku konsultan pengawas, dan Ir. Charles Meok selaku Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sabu Raijua.

Baca: Sekolah Menengah Kejuruan Tiara Nusa Borong Tampilkan Tarian Caci

Sidang korupsi yang terjadi tahun 2015 ini juga menghadirkan dua orang terdakwa yang bertanggung jawab atas kasus tersebut. Kedua terdakwa itu, yakni Fransiskus Xaverius Endrue Lie, S.T selaku kuasa Direktur PT Pedrojaya Abadi dan Johan Sahertin selaku Direktur PT Arizon Karya.

Baca: Kondisi Ruangan Kelas SDK Rangang Ini Sangat Memrihatinkan

Dalam persidangan itu, saksi atas nama Nikodemus Tari kepada majelis hakim mengatakan, pada saat perencanaan proyek pembangunan tambak garam itu, sebenarnya tidak ada masalah. Namun, setelah pelaksanaan pekerjaan baru terjadi masalah.

Baca: 153 Warga Toianas TTS Menolak Coklit Masuk DPT

"Sampai tahun anggaran selesai, pekerjaan belum semuanya. Karena ada masyarakat yang menolak dan tidak ingin kalau pengerjaan yang dilakukan oleh pemilik lahan sendiri," kata Nikodemus.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sabu Raijua, S Hendrik Tiip, kepada POS-KUPANG.COM mengatakan, atas perbuatan keduanya, negara mengalami kerugian sebesar Rp 2,4 miliar untuk PT Pedrojaya Abadi dari anggaran sesuai DPA sebesar Rp 7 miliar.

Sedangkan akibat perbuatan PT Arison Karya negara mengalami kerugian sebesar Rp 2,9 miliar dari total anggaran sesuai DPA sebesar Rp 8 miliar.

Pantauan POS-KUPANG.COM, sidang kasus pembangunan tambak garam ini dipimpin hakim ketua, Edy Pranomo, S.H, M.H, dan dua hakim anggota, Jimmy Tanjung Utama, S.H dan Ibnu Kholik, S.H, M.H. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved