Wanita Korea Utara Ini Ceritakan Pengalaman Mengerikan saat Dipenjara, Bikin Merinding

Seorang wanita yang berhasil melarikan diri dari Korea Utara menceritakan pengalaman mengerikan saat ia dipenjara selama 25 hari di negara asalnya.

Wanita Korea Utara Ini Ceritakan Pengalaman Mengerikan saat Dipenjara, Bikin Merinding
tribunnews.com
Danbi Kim 

POS-KUPANG.COM - Seorang wanita yang berhasil melarikan diri dari Korea Utara menceritakan pengalaman mengerikan saat ia dipenjara selama 25 hari di negara asalnya.

Dalam sehari ia hanya diberi jatah 30 biji jagung dan mengalami sejumlah kekerasan fisik. Wanita ini bernama Danbi Kim, saat ini berusia 26 tahun.

Baca: Survei KedaiKopi, Hari Ini Elektabilitas Jokowi Masih Tertinggi

Ia dibesarkan di Desa Hyesan, Provinsi Ryanggang dan menjalani masa kanak-kanak yang indah. Kehidupan Danbi berubah menjadi mimpi buruk setelah ada kebutuhan menyuap guru, kerja paksa dan bertahan dengan jam indoktrinasi.

Ayah Danbi juga jatuh ke dalam hutang sehingga memaksanya untuk membantu orangtua. Namun, jalan yang dipilih Danbi justru tindakan yang melawan hukum negara totaliter tersebut.

Baca: Mahasiswa Kedokteran Ini Wakili Undana ke Pentas Nasional, Purek III Janjikan Bonus Menggiurkan

Ia menyelundupkan barang-barang seperti DVD, stik USB ke tracksuits, celana jeans dan sejumlah barang lain melintasi perbatasan China.

Berkat menyelundupkan DVD itulah Danbi kemudian mengetahui kehidupan di luar Korea Utara. Namun, tindakannya itu diketahui oleh polisi rahasia negaranya.

Baca: Anda Punya Sepeda Motor Honda dan Ingin Tetap Awet? Perhatikan 7 Tips Ini

Ia kemudian ditangkap bersama saudaranya dan dipenjara selama 25 hari. Selama di penjara, Danbi mengalami penyiksaan dan harus berdiri dalam posisi sama selama delapan jam.

Danbi dan saudaranya juga kelaparan, karena hanya diberi makan 30 biji jagung dalam sehari.

"Penyiksaan di kantor polisi adalah neraka. Tetapi di pusat penahanan politik, Anda diperlakukan seolah-olah bukan manusia," ungkap Danbi.

Ia juga dipaksa untuk berada di blok pegunungan, serta menyaksikan saudaranya disiksa.

"Untukku, mereka punya batang tebal, menjepitnya di antara lutut saya dan membuat saya duduk seperti itu selama delapan jam. Ketika saya tidak mengaku, mereka memukul saya dengan sebuah benda sampai kulit saya menjadi hitam," tambahnya.

Danbi masih beruntung karena dibebaskan dalam waktu 25 hari. Sedangkan saudaranya justru tak diketahui nasibnya hingga kini, dan diyakini berada di kamp penjara politik. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help