Termakan Bujuk Rayu Paman Marthinus, Marta Nekat ke Malaysia

Bujuk rayu paman Marthinus Rau meluluhkan hati Marta Ndiki, warga Kampung Ladubewa, Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka.

Termakan Bujuk Rayu Paman Marthinus, Marta Nekat ke Malaysia
POS-KUPANG.COM/EGINIUS MO'A
Paspor milik Marta Ndiki

Laporan wartawan Pos-Kupang.Com, Eginius Mo'a

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Bujuk rayu paman Marthinus Rau meluluhkan hati Marta Ndiki, warga Kampung Ladubewa, Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, di Pulau Flores.

Tak hanya melancarkan bujukan kepada Marta. Marthinus juga membujuk suami Marta agar merelakan istrinya berangkat ke Malaysia menjadi pembantu rumah tangga.

Baca: Warga Noebana Buat Lima Kandang Sapi Jepit

Ditambah dengan sikap ngotot Marta yang nekat berangkat, pertahanan sang suami yang semula menolak akhirnya luluh hatinya. Tanggal 9 Juli 2016, Marta ditemani Maria Adinda Weti bertolak dengan kapal laut dari Pelabuhan Lorens Say Maumere ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Selama seminggu sampai satu bulan Marta dan Maria tinggal di rumah sang bos di Batam menunggu pengurusan paspor wisata. Ia masuk Malaysia menjalani profesi sebagai pekerja kebersihan dijanjikan gaji 800 Ringgit/bulan. Meski yang diterimanya hanya 400 Ringgit/sebulan, sedangkan sisanya Rp 400 Ringgit diambil bos.

Baca: BBPP Kupang Latih Peternak di Belu, Ini Tujuannya

Tak puas dengan perlakuan yang diterimanya, Marta memilih pulang ke kampungnya di Ladubewa. Ia mendatangi Divisi Perempuan dan Anak Tim Relawan untuk Kemanusiaan-Flores (TRuK-F) mengadvokasi pengaduan kasusnya ke Polres Sikka.

"Pamannya yang bujuk rayu dia. Kata pamannya, kau berangkat saja kerja di Malaysia. Pamannya tidak bicarakan tentang jam kerja, gaji dan fasilitas yang diterimanya," kata Heny Hungan, kepada Pos-Kupang.Com Jumat (13/4/2018) di Maumere. (*)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help