Lembata Butuh 20 Ton Bensin Per Hari
Kalau pengangkutan BBM khususnya premium dari Larantuka ke Lewoleba sebanyak 20 ton perhari, maka jumlah itu pas untuk kebutuhan Lembata.
Penulis: Frans Krowin | Editor: OMDSMY Novemy Leo

Laporan Wartawan Pos-Kupang.Com, Frans Krowin
POS KUPANG.COM, LEWOLEBA --- Jumlah kendaraan bermotor di Kabupaten Lembata selalu bertambah dari hari ke hari. Bertambahnya jumlah kendaraan itu berpengaruh langsung terhadap permintaan bahan bakar minyak (BBM).
Kalau pengangkutan BBM dari Larantuka ke Lewoleba hanya 10 ton premium per hari, itu sama sekali tidak cukup untuk menjawabi kebutuhan masyarakat. Tapi kalau volume pengangkutan bensin 20 ton per hari, maka jumlah itu sudah pas untuk Lembata.
Kalimat ini disampaikan Supervisior Agen Premium Minyak Solar (APMS) Lamahora, Tesar Koles, ketika dihubungi Pos Kupang.Com di SPBU Lamahora, Jumat (6/4/2018).
“Kalau pengangkutan BBM khususnya premium dari Larantuka ke Lewoleba sebanyak 20 ton perhari, maka jumlah itu pas untuk kebutuhan Lembata. Tapi jika volumenya di bawah itu, berarti akan terjadi kelangkaan BBM, khususnya bensin,” tandas Tesar.
Menurut dia, krisis bensin selalu terjadi karena volume pengangkutan kurang, sementara permintaan bertambah. Kondisi ini diperparah juga oleh tumbuh suburnya pengecer bensin di pinggir-pinggir jalan.
Namun dirinya bersyukur karena masalah kelangkaan bensin yang melanda Lembata dalam beberapa bulan terakhir, berhasil diatasi pemerintah, setelah Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati Thomas Ola Langoday bersama para pejabat lainnya, menyelesaikan masalah tersebut di Kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di Jakarta.
Pihaknya berharap, setelah akar persoalan diselesaikan di tingkat pusat, proses pengangkutan dan pendistribusian BBM dari Pelabuhan Larantuka ke Pelabuhan Lewoleba tak lagi dipermasalahkan.
Sebab armada yang selama ini mengangkut BBM ke Lewoleba, masih tetap digunakan untuk hari-hari ke depan. Penggunaan Kapal Motor (KM) Lembata Jaya itu masih dilakukan sambil menunggu pengadaan kapal motor lain untuk pekerjaan yang sama.
Tesar mengakui, pengangkutan BBM menggunakan armada Lembata Jaya selama ini tidak bermasalah. Moda transportasi itu layak untuk mengangkut BBM dari Larantuka ke Lewoleba. Hanya saja, cara pandang atas kelayakan armada itu berbeda dengan sudut pandang pihak Syahbandar.
Ia tak tahu pasti apakah akan ada penambahan armada untuk mengangkut BBM dari Larantuka ke Lewoleba. Sebab hal itu merupakan wewenang pemilik perusahaan tersebut.
Sebagai supervisior, katanya, ia hanya menjalankan tugas, yakni ketika ada BBM yang diangkut dari Larantuka ke Lewoleba, maka tatkala BBM sudah tiba di Lewoleba, pihaknya langsung mendistribuskannya kepada masyarakat.
“Kami ini berstatus karyawan yang hanya punya tugas melayani masyarakat. Jadi kalau ada BBM, pasti kami layani. Tapi kalau BBM terbatas, berarti sebagian masyarakat tentu tak kebagian BBM. Kami juga gembira, karena walau Lembata krisis BBM tapi masyarakat tetap menjaga situasi yang kondusif di daerah ini,” ujarnya. (*)