Pelakor dan Wacana Peminggiran Perempuan. Nah?

Sebagai variasi bahasa, tentunya istilah `pelakor' dimunculkan karena pelbagai faktor kemasyarakatan, misalnya siapa berbicara

Pelakor dan Wacana Peminggiran Perempuan. Nah?
shutterstock
Ilustrasi 

Oleh: Viktorius P Feka
Mahasiswa Pascasarjana UGM dan Penerima Beasiswa LPDP

POS KUPANG.COM -- Salah satu istilah yang kini turut meramaikan dunia penciptaan kata baru adalah `pelakor'. Pelakor merupakan pendekan dari `perebut (le)laki orang'. Istilah ini, dalam kajian sosiolinguistik, disebut sebagai variasi bahasa.

Sebagai variasi bahasa, tentunya istilah `pelakor' dimunculkan karena pelbagai faktor kemasyarakatan, misalnya siapa berbicara, kepada siapa, di mana, kapan, dan untuk apa (Wijana, 2011:18).

Seturut faktor penentu penciptaan istilah `pelakor' itu, maka saya mencoba meringkaskan faktor-faktor tersebut ke dalam tiga kelompok besar: pertama, penuturan-tuturan, penutur dan lawan tutur; kedua, ruang dan waktu; ketiga, tujuan (maksud).

Pertama, penuturan. Istilah `pelakor' ini kini telah menjadi tuturan yang viral-menghiasi etalase kebahasaan, baik dalam percakapan langsung sehari-hari maupun percakapan lewat media sosial (medsos). Tuturan ini dikonstruksi oleh penutur yang mungkin saja memiliki intensi tertentu.

Intensi umumnya adalah pengungkapan rasa kesal, kecewa, sakit hati, atau benci akan ketaksetiaan salah satu pasangan dalam suatu hubungan cinta atau ikatan perkawinan. Ini berarti bahwa secara umum yang menjadi lawan tutur dari penutur (pencipta tuturan) `pelakor' sesungguhnya adalah perempuan dan laki-laki atau istri dan suami.

Namun, fakta lingual berkata lain, bahwa tuturan tersebut hanya diatributkan kepada perempuan atau istri yang tak setia kepada pasangannya.

Kondisi demikian terjadi karena istilah `pelakor' telah dipersempit ruang maknanya hanya kepada pihak perempuan atau istri yang tak setia dengan pasangannya.

Perempuan atau istri tak setia dipersepsikan sebagai pelaku utama dan mungkin saja pelaku tunggal dalam kasus perselingkuhan.

Istilah ini diciptakan oleh penutur yang mungkin saja telah merasa muak dengan tingkah laku pasangannya yang curang; istilah itu diproduksi oleh penutur yang merasa dilecehkan oleh pasangannya karena kehadiran pihak ketiga; istilah itu dihadirkan oleh mereka yang membenci kasus perselingkuhan.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved