Jual Beli Manusia Nusa Tenggara Timur

Bapaklah Kepala. Kepala hendaknya melindungi anak daerahnya. Tapi di mana Kepala ketika peti mati selalu dikirim dari lintas batas?

Jual Beli Manusia Nusa Tenggara Timur
POS KUPANG/GORDY DONOFAN
Keluarga menangis di atas peti jenazah Adelina Sau, TKI asal Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur yang meninggal di Malaysia, saat tiba di Bandara El Tari Kupang, Sabtu (17/2/2018). 

Oleh: Willem Openg
Warga Kota Kupang

Kami memanggilmu Kepala Daerah karena Bapaklah pemimpin daerah ini, entah itu kabupaten/kota, entah itu Provinsi. Bapaklah Kepala. Kepala hendaknya melindungi anak daerahnya. Tapi di mana Kepala ketika peti mati selalu dikirim dari lintas batas?

POS KUPANG.COM -- Sejarah jual beli manusia sudah dikenal sejak beribu-ribu abad lalu. Kitab suci Orang Nasrani berkisah tentang Yusuf yang dijual ke Mesir oleh saudaranya sendiri seharga 20 syikal perak (baca:Kejadian 37:12-36).

Bahkan lebih keji lagi Nabi Isa (Yesus) pun dijual oleh muridNya sendiri dengan harga 30 uang perak (Mt 26:14-16). Itu berarti sebelum zaman Yesus hingga zaman Yesus hidup dan sampai hari ini; aktivitas jual beli manusia masih tetap berlangsung dan bahkan bertambah pesat sampai ke ujung pelosok dunia mana pun di muka bumi ini dengan modus operandinya bermacam-macam entah ilegal maupun legal sekalipun.

Perdagangan manusia. Bahasa dunianya, human trafficking. Tapi intinya sama yakni manusia digunakan sebagai komoditi (barang) jualan untuk memperoleh keuntungan dalam segala bentuknya. Si manusia sudah menjadi seperti ternak kambing dan sapi milik petani. Manusia yang menjual tidak memiliki hati nurani lagi.

Manusia yang dijual sudah kehilangan martabat, kekuatan untuk membela dirinya sendiri. Dan, korban yang paling banyak dalam perdagangan manusia adalah kaum perempuan (ibu muda dan gadis belia) serta anak-anak.

Mereka diperdagangkan untuk tujuan dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, buruh manufaktur dan atau untuk eksploitasi seksual dalam segala bentuknya.

Pos Kupang dengan sangat cermat dan komprehensif menurunkan pada headlinenya berita-berita keji nan kejam yang diperoleh para korban human trafficking ini sejak pertengahan Februari hinggabulan Maret ini.

Beberapa di antaranya adalah Mafia Trafficking Bergeser ke Peradilan, Paling banyak Ilegal (27/2/18); Adelina Sau mati karena perlakuan kejam majikannya (28/2/18); Petronela Dilarang Cuti oleh Majikan, 9 tahun kerja di Malaysia (5/3/18), TKW Asal Takari diduga Depresi, diselamatkan warga Tuban (6/3/18), TKW asal TTS Melarikan diri dari Malaysia (10/3/18). Nasib buruk TKI asal NTT di Malaysia, Eny sedih Nikolas pulang dalam kondisi sakit, (11/3/18), Lagi, Tiga peti Jenazah TKI Tiba di Kupang (PK, 12/3/18).

Dari sekian banyak berita yang dilansir medsos dan media cetak di provinsi ini, saya sendiri tidak pernah membaca atau mendengar para Kepala Daerah yang menjadi tuan yang melindungi segenap tumpah-darahnya berbicara tegas dan atau berpendapat smart untuk mengatasi perdagangan manusia ini.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help