Membalikan Meriam yang Diarahkan Kepada Rakyat

Hario Kecik salah seorang pelaku perang tiga bulan di Surabaya 1945 atau yang dikenal sebagai perang 10 November 1945

Membalikan Meriam yang Diarahkan Kepada Rakyat
POS-KUPANG.COM/EDI HAYON
Kondisi meriam yang dipasang di halaman depan Kantor Gubernur NTT di Jalan El Tari Kupang, Rabu (28/3/2018). 

Oleh: Elcid Li
Rakyat Indonesia di Nusa Tenggara Timur

POS KUPANG.COM -- Hari ini, 28 Maret 2018, meriam Belanda yang dipajang dengan moncongnya diarahkan kepada rakyat kami balik dan arahkan ke dalam, ke Kantor Gubernur NTT.

Rodanya kami buang di got. Catatan ini adalah pledoi tentang aksi pembalikan mulut meriam Belanda yang kami arahkan ke kantor Gubernur NTT ketika berkunjung ke Kantor Gubernur NTT untuk meratapi matinya saudara-saudari kami yang dipulangkan dalam peti mati dan tidak dipedulikan.

Hario Kecik salah seorang pelaku perang tiga bulan di Surabaya 1945 atau yang dikenal sebagai perang 10 November 1945 mengatakan ada kecenderungan elit-elit Indonesia senantiasa mengarahkan meriam kepada rakyatnya sendiri, daripada mengarahkan meriam kepada musuh-musuh negara yang berasal dari luar negara. Tanda-tandanya jika ada `ajang adu ayam' sudah bisa dipastikan itu kerjaan bangsa sendiri yang mengadopsi devide et impera.

Model kolonialisme internal semacam ini dilanggengkan oleh para elit lokal. Mereka gemar sekali berpesta seperti layaknya para londo dulu. Mereka gemar dipuji oleh anak-anak yang mereka bina.

Sebaliknya mereka amat alergi terhadap kritik. Meskipun jika kritik itu menyangkut nyawa rakyat. Di era yang orang sebut sebagai post truth dengan mudah para centeng menggadaikan harga diri dan logika untuk menyembah tuannya.

Jangan heran meskipun proklamasi 1945 sudah dikumandangkan berulang-ulang namun konsep rakyat (the people) tidak pernah bisa diturunkan dalam gerak kolektif. Sebaliknya yang terjadi adalah para elit berpestapora, dan rakyat pulang dalam peti mati.

Jangan heran jika meriam Belanda dipakai bertahun-tahun dan diarahkan moncongnya selama sekian tahun kepada rakyat. Simbol-simbol penjajah yang dipakai dan dianggap biasa merupakan bukti bahwa kolonialisme bukan lah soal warna kulit.

Para elit baru (new class) hidup terasing di negeri yang kemiskinan menjadi kutukan untuk orang miskin. Bahkan orang kaya maupun investor menjadi dewa-dewa baru yang amat peduli dengan sopan santun yang dibuat-buat, tetapi mengabaikan kemanusiaan yang hakiki. Regulasi tetap menyimpan unsur penindasan. Logika ekonomi, cenderung mengabaikan kematian orang kecil. Uang adalah panglima. Memburu rente adalah bahasa kompeni.

Ratusan orang yang pulang mati di NTT hanya dianggap lelucon. Sukarnois macam apa kalian, jika membaca teks Sukarno pun tak mampu, tetapi sebaliknya gemar sekali bersembunyi di balik ketiak kekuasaan. Ah, Bung Karno, putrimu pun mengecewakan kami! Si kurus ceking pun tak peduli pada perempuan-perempuan kami yang dijual.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved