Kasus di SMKN 1 SoE, Kepala Sekolah Surati Dinas Pendidikan NTT

soal dana Rp 500.000 itu, bukan pungutan oleh sekolah ‎, melainkan merupakan sumbangan dari Komite sekolah melalui orang tua wali.

Kasus di SMKN 1 SoE,  Kepala Sekolah Surati Dinas Pendidikan NTT
Pos Kupang/Metilde Dhiu
Alo Min 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Oby Lewanmeru

POS KUPANG.COM,KUPANG -- Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 SoE, Peka Antonius, STP, M.P akhirnya menyurati Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT untuk mengkarifikasi tentang pemberitaan bahwa puluhan siswa di sekolah itu diusur karena tidak membayar uang ujain sebesar Rp 500.000 per siswa.

Pihak sekolah juga mengklarifikasi bahwa hanya ada tujuh siswa yang tidak mengikuti Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) karena sakit dan ada yang tanpa berita.

Hal ini disampaikan Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Alo Min,S.Pd,M.M yang dikonfirmasi melalui Kepala Bidang SMK, Pius Rasi ketika ditemui di kantor Dinas Pendidikan NTT, Senin (26/3/2018).

Menurut Pius, setelah mendapat informasi bahwa ada puluhan anak SMKN 1 SoE kelas XII yang tidak mengikuti ujian, pihaknya langsung meminta klarifikasi dari pihak sekolah.‎ "Tadi saya sudah hubungi kepala sekolah dan kepala sekolah membantah adanya pengusiran terhadap siswa yang belum bayar uang sekolah," kata Pius.

Dijelaskan,setelah meminta pihak sekolah mengklarifikasi, maka Kepela SMKN 1 SoE langsung menyurati Kadis Pendidikan NTT dan menyampaikan klarifikasi.

Dalam klarifikasi itu, lanjut Pius, Kepala SMKN 1 SoE, Peka Antonius menyatakan bahwa apa yang dipublikasikan oleh salah satu media cetak itu ternyata tidak benar.

"Pihak sekolah sudah melakukan USBN sesuai dengan aturan dan tidak menarik pungutan. Pak Antonius juga menyatakan, pihaknya tidak pernah mengusir siswa untuk tidak ikut USBN," katanya.

Dikatakan, bahwa sesuai surat klarifikasi itu, disampaikan bahwa, pada hari pertama USBN di SMKN 1 SoE, diikuti oleh 190 siswa dari total 197 siswa yang terdaftar dalam daftar peserta ujian tetap. "Dari tujuh orang siswa yang tidak hadir itu, ada satu orang yang sakit, sedangkan enam orang siswa tanpa berita. Sekolah telah berupaya menghadirkan tujuh siswa itu dengan mengirim surat kepada mereka, serta menugaskan wakil kepala sekolah kesiswaan, ketua OSIS dan wali kelas menjemput mereka," kata Pius.

Dikatakan, sampai saat ini, baru satu siswa atas nama Robinson Manbait yang melapor diri dan telah mengikuti ujian susulan.

Sedangkan soal dana Rp 500.000 itu, bukan pungutan oleh sekolah ‎, melainkan merupakan sumbangan dari Komite sekolah melalui orang tua wali.

"Sumbangn itu telah disepakati bersama orang tua wali dengan pihak Komite Sekolah melalui rapat komite yang dilakukan pada 13 Februari 2018 lalu," ujarnya.(*)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved