Prapaskah dan Human Trafficking di NTT. Hubungannya Seperti Ini

Bagi PBB human trafficking adalah semua praktik yang berkaitan dengan rekruitmen atau pemindahan orang oleh pihak lain

Prapaskah dan Human Trafficking di NTT. Hubungannya Seperti Ini
Ilustrasi

Oleh: Watu Yohanes Vianey
Dosen Unwira Kupang

POS KUPANG.COM -- Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali berduka. Di masa Prapaskah ini NTT kembali menerima kiriman jenazah putra putrinya yang menjadi korban human trafficking.

Sejak Januari sampai 13 Februari di Minggu ke -4 Praspaskah sudah 13 jenazah yang dikirim dari negeri Jiran. Secara mondial, perihal trafficking telah dibahas PBB sejak tahun 1949, dengan mengesahkan konvensi untuk memberantas perdagangan manusia dan eksploitasi pelacuran oleh pihak lain.

Bagi PBB human trafficking adalah semua praktik yang berkaitan dengan rekruitmen atau pemindahan orang oleh pihak lain dengan menggunakan kekerasan, ancaman penggunaan kekerasan, penyelewengan kekuasaan atau posisi dominan, penipuan ataupun segala bentuk kekerasan untuk tujuan mengeksploitasi orang-orang tersebut secara seksual maupun ekonomi untuk kepentingan pihak lain seperti perekrut, mucikari, trafficker, perantara rumah bordil dan pegawai lainnya, atau sindikat kriminal. (bdk. Darnela, 2007)

Awal milenium baru PBB menegaskan kembali sikapnya terhadap hal di atas dan menggunakan Protokol untuk mencegah, menekan dan menghukum pelaku trafficking.

Pasal 3 dalam protokol tersebut menjelaskan konsep trafficking sebagai proses rekrutmen, transportasi, pemindahan, penyembunyian, atau penerimaan seseorang dengan ancaman atau penggunaan kekerasan, pencurian, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan ataupun menerima atau memberi bayaran atau manfaat sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, untuk kepentingan eksploitasi yang secara minimal termasuk eksploitasi lewat prostitusi atau bentuk-bentuk eksploitasi seksual lainnya, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik-praktik lain yang serupa dengan perbudakan, penghambaan atau pengambilan organ-organ tubuh.

Pernyataan "pengambilan organ tubuh" dalam rumusan di atas adalah pernyataan yang eviden untuk kasus trafficking di NTT.

Bukankah ada jenazah TKI yang kondisi bagian perut dan dada mayatnya dijahit? Di mana organ-organ vital tubuhnya?

Pemerintah NKRI juga telah mempunyai UU Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, yang disebut trafficking. Mengapa UU ini terasa tumpul di wilayah Flobamorata?

Apakah sudah optimal terutama Pemda NTT di bawah rezim Gubernur Frans Lebu Raya dari PDIP, mencegah hal yang merendahkan kemanusiaan yang adil dan beradab ini? Bagaimana dengan komitmen keempat pasangan Cagub-Cawagub kita ke depan?
Secara substansial makna perdagangan orang yang digagas PBB dan negara kita, rasanya mencirikan atau memberikan pemahaman tenang trafficking sebagai berikut:

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved