Menangkal Efek Politik "Pasca-Kebenaran"

Efek negatif itu tampak dalam dua hal. Pertama, rujukan diskursus yang bukan lagi pada kebenaran obyektif

Menangkal Efek Politik
ilustrasi

Oleh: Inosentius Mansur
Pemerhati sosial-politik dari Ritapiret, Maumere, Flores

POS KUPANG.COM -- Semenjak Oxford Dictionaries menobatkan "pasca-kebenaran" sebagai The Word of The Year 2016, istilah "pasca-kebenaran" semakin populer saja. Namun demikian, popularitas kata ini bukan karena efek positifnya, tetapi karena efek negatif yang diakibatkannya.

Efek negatif itu tampak dalam dua hal. Pertama, rujukan diskursus yang bukan lagi pada kebenaran obyektif, tetapi pada eksploitasi emosi. Hal ini mengakibatkan menguatnya narasi kebencian di ruang publik.

Ada sekelompok orang yang menjadikan isu-isu sensintif sebagai basis dalam memobilisasi publik. Akibatnya adalah fragmentasi yang menyebabkan distorsi dan polarisasi.

Kedua, efek itu juga terlihat dari viralisasi politik imajinasi parsial minus akurasi. Di sini, publik digiring untuk terlibat dalam diskursus yang menggandakan propaganda tanpa didasarkan pada elaborasi akademik-rasional dan kajian data empirik. Publik dikapitalisasi untuk mendukung kepentingan politik yang dikendalikan oleh sekelompok orang yang memanipulasi kebenaran.

Efek

Harus diakui bahwa narasi kebencian dan hegemoni politik imajinasi merupakan ancaman bagi demokrasi. Dikatakan demikian, karena kebenaran bukan lagi menjadi acuannya.

Kata Rodgers (2017), diskursus publik dikuasai oleh kontestasi klaim kebenaran dan bukan lagi berdasarkan apa yang oleh nalar publik diakui secara obyektif sebagai kebenaran.

Isu-isu sensitif berupa identitas misalnya, dijadikan kekuatan politik destruktif. Politik diorganisir berdasarkan loyalitas pada keyakinan dan isu-sisu sensitif eksklusif lantas dikonversi menjadi sumber daya politik.

Di sini, ada kelompok yang oleh Cherian George (2016), disebut sebagai makelar. Mereka berusaha memodifikasi provokasi menjadi gerakan kolektif-publik.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help