Apa Benar Penyakit Kusta Adalah Kutukan Dewa? Ternyata Kusta Bisa Disembuhkan

Hapus stigma dan mitos menakutkan tentang kusta. Mari berpikir ilmiah dan rasional. Penyakit ini dapat disembuhkan.

Apa Benar Penyakit Kusta Adalah Kutukan Dewa? Ternyata Kusta Bisa Disembuhkan
istimewa
Ilustrasi kusta 

APA yang ada di benak anda saat anda pertama kali mendengar kata kusta? Mungkin ada diantara kita yang berpikir bahwa kusta merupakan penyakit yang menyeramkan, penyakit yang menjijikkan, penyakit yang tidak dapat diobati atau malah berpikir kusta adalah sebuah kutukan dewa ?

Mari sejenak kita bersama-sama mengenal sejarah penyakit kusta. Kata kusta berasal dari bahasa India yaitu kustha. Kusta merupakan salah satu penyakit tertua dan telah dikenal sejak 1.400 tahun Sebelum Masehi. Dalam kitab Injil, berdasarkan terjemahan bahasa Ibrani disebutkan dengan tzaraath. Istilah ini seringkali diterjemahkan menjadi "kusta". Namun terjemahan ini diperdebatkan karena gambaran penyakit Tzaraath berbeda dengan kusta yang sebenarnya.

Mengenal lebih jauh tentang penyakit kusta, kita perlu mengetahui apa definisi kusta. Kusta merupakan penyakit infeksikronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae, menyerang saraf perifer/saraf tepi, kulit dan mukosatraktusrespiratorius (saluran napas) bagian atas dan juga dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Nama lain dari penyakit kusta adalah lepra atau Morbus Hansen.

Secara epidemiolog ipenyakit kusta tersebar di seluruh dunia. India adalah negara dengan jumlah penderita terbesar, diikuti Brazil dan Myanmar. Namun untuk kasus kusta baru, Indonesia menduduki posisi nomor tiga setelah India dan Brazil.

Kelompok yang memiliki risiko tinggi terkena kusta adalah mereka yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi sanitasi lingkungan maupun sanitasi perorangan yang buruk, tidak tersedianya air bersih dan tidak tersedianya tempat tinggal yang layak huni. Selain itu, orang dengan gizi buruk dan memiliki sistem imun yang rendah seperti HIV akan mudah terjangkit penyakit kusta.

Ciri-ciri penyakit kusta secara klinis sangat beragam dimana lesi/kelaianan pada kulit yang nampak dapat menyerupai penyakit kulit lainnya. Salah satu contoh misalnya terdapat bercak putih (maculahi popigmentasi) di kulit menyerupai penyakit panu ( tinea versikolor). Sepintas akan nampak seperti panu, diobati berulang-ulang namun tidak kunjung sembuh. Bisa jadi, bercak putih tersebut merupakan penyakit kusta. Terutama bila terdapat anesthesia (hilangnya sensasi rasa perabaan, nyeri maupun sensasi membedakan suhu panas/dingin).

Itulah sebabnya penyakit kusta di juluki the greatest imitator dalam ilmu penyakit kulit. Dokter sudah seharusnya paham bagaimana membuat diagnosis yang benar dan tepat terkait penyakit kusta. Paramedis pun diharap mampu mengenali gejala klinis penyakit kusta dan segera merujuk setiap pasien yang dicurigai menderita penyakit kusta ke fasilitas kesehatan yang memadai agar segera mendapatkan pengobatan yang tepat.

Dalam menegakkan diagnosis penyakit kusta tentunya sudah melalui serangkaian pemeriksaan yang meliputi bagaimana gambaran klinis kusta, pemeriksaan bakteri oskopis (menemukan Basil Tahan Asam dalam kerokan jaringan kulit) , histopatologis dan serologis.

Perkembangan ilmu pengetahuan membuat penyakit kusta bisa diobati. Anda tidak perlu takut atau menjauhi atau bahkan mengucilkan orang yang menderita penyakit kusta. Penyakit kusta tidak dengan mudah menular jika tidak ada kontak langsung yang lama dengan penderita dan juga jika anda menjaga kebersihan diri dan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal anda.

Sesuai dengan rekomendasi WHO, pengobatan kusta adalah dengan menggunakan MDT (Multi Drug Treatment) yang berguna untuk mencegah dan mengobati resistensi terhadap obat, memperpendek masa pengobatan, serta mempercepat pemutusan mata rantai penularan.
Memang tidak dapat dipungkiri, komplikasi dari penyakit kusta terutama penderita kusta yang terlambat di diagnosis dan tidak mendapatkan MDT akan mengalami komplikasi yang serius yaitu kerusakan saraf yang bersifati reversibel, bahkan paralisis (kelumpuhan saraf) dan atrofiotot.

Kusta menjadi penyakit yang menakutkan karena dapat terjadi ulserasi (ulkus/borok), mutilasi (terputusnya organ yang terkena kusta) dan deformitas (kelainan bentuk) organ yang terkena.
Namun, sekali lagi berbagai komplikasi seperti ini dapat dicegah jika penyakit kusta dapat di deteksi secara dini dan mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat serta kepatuhan penderita dalam menjalankan pengobatan secara tuntas.

Masyarakat dan lingkungan sekitar sepatutnya tidak perlu mengucilkan penderita kusta. Penyakit kusta bukan kutukan. Hapus stigma dan mitos menakutkan tentang kusta. Mari berpikir ilmiah dan rasional. Penyakit ini dapat disembuhkan. Penderita kusta perlu mendapat dukungan demi kesembuhannya. Masyarakat dihimbau untuk menjaga kebersihan diri serta menjaga kebersihan lingkungannya dengan menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) sebagai gaya hidupnya. **

Alamat: Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT
E-mail : roslin.horo@gmail.com

Editor: Sipri Seko
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved