Cerita Lucu Saat Tahbisan Pater Paulinus, Uskup Keuskupan Tanjung Selor

dan memegang kepala anaknya, Amatus memberikan nasehat agar Pater Paulinusagar berjalan mengikuti jejak Tuhan Yesus

Cerita Lucu Saat Tahbisan Pater Paulinus, Uskup Keuskupan Tanjung Selor
Pos Kupang.Com/Dion Kota
suasan pentahbisan Pater Paulinus Olla menjadi imam baru di Yogyakarta tahun 1992. 

Laporan Wartawan  Pos Kupang.Com, Dion Kota

POSKUPANG.COM, KEFAMENANU - Selalu ada cerita di balik sebuah peristiwa. Hal ini juga berlaku untuk peristiwa tahbisan Pater Paulinus Olla yang saat ini dipercaya menjadi Uskup Keuskupan Tanjung Selor, Kalimantan Utara, 26 tahun lalu atau tepatnya 28 Agustus 1992 di Yogyakarta.

Tiga hari sebelum tahbisan, kedua orang tua Pater Paulinus, Amatus Olla dan Petronela Bifel berangkat dari Kupang menuju Surabaya menggunakan Kapal Laut bersama empat orang anggota keluarga lainnya.

Sesampainya di Surabaya, kedua orang tua Pater Paulinus langsung dijemput di pelabuhan oleh seorang kerabat Pater Paulinus yang tinggal di Surabaya. Perjalanan menuju Yogyakarta selanjutnya ditempuh menggunakan bus dengan memakan waktu sekitar 6 jam perjalanan.

Saat hendak berangkat ke Yogyakarta, Amatus membawa sebilah kris yang disimpan dalam tasnya. Awalnya, Amatus menyembunyikan kris tersebut. Namun, karena ingin menakut-nakuti supir bus yang memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi,

Amatus mengeluarkan kris tersebut dari dalam tasnya dan sengaja menunjukan gagang kris kepada supir bus. ?Ia berharap melihat kris tersebut bisa membuat supir bus takut dan mengurangi kecepatan bus tersebut.

" Saat dalam bus, bapak ketakutan karena supir memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi. Bapak emosi sekali dengan supir bus hingga dia langsung sengaja kasih keluar krisnya dan menunjukkan gagang krisnya kepada supir bus lewat pantulan gambar dari kaca sipion. Namun sayang, supir tetap memacu bus tersebut dengan kecepatan tinggi," cerita Petronela sambil tertawa.

Setengah perjalanan, bus pun berhenti untuk makan siang. Saat itu, semua penumpang turun dan makan di sebuah warung. Karena persedian uang yang dibawa terbatas, Amatus melarang istri dan empat orang anggota keluarga lainnya untuk makan. Supir bus sempat mengajak untuk makan, namun Amatus menolak dengan alasan tidak lapar.

" Kami tidak tahu kalau uang tiket itu sudah dihitung satu kali makan. Jadi orang turun makan gratis di warung kami enam orang tahan lapar karena takut bayar lagi," ungkapnya.
Akhirnya, sekitar pukul 18.00 WIB, Amatus bersama istri dan keluarga tiba di biara.

Mereka langsung dijamu dengan makan malam sebelum bertemu dengan anak tercinta, Pater Paulinus. Satu hari menjelang tahbisan, dilakukan acara gladi bersih yang diikuti oleh para orang tua dari calon imam. Karena tidak dijemput oleh sang anak, Amatus dan Petronela tidak mengikuti gladi bersih. Hal ini membuat Petronela dan Amatus gugup ketika acara tahbisan. Keduanya bingung harus bagaimana saat acara Tahbisan berlangsung.

Halaman
12
Penulis: Dion Kota
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help