Pilih Pemimpin yang Benar Bukan Partai

Semuanya kembali kepada kecerdasan dan hati nurani masyarakat pemilih untuk menentukan pilihannya pada calon

Pilih Pemimpin yang Benar Bukan Partai
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
ilustrasi 

Oleh: Pieter Hadjon, S.H., M.H.
Advokat, berkantor di Graha S.A Office Building Lt. 3 Ruang 309, Jl. Raya Gubeng No. 19-21 Surabaya

POS KUPANG.COM -- Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Marianus Sae, Bupati Ngada yang juga salah seorang bakal calon Gubernur NTT dan kasus-kasus korupsi yang melanda kepala daerah membuat partai tidak bisa lagi diandalkan untuk menyediakan calon pemimpin terbaik dalam mengikuti kompetisi Pilkada.

Semuanya kembali kepada kecerdasan dan hati nurani masyarakat pemilih untuk menentukan pilihannya pada calon pemimpin yang benar-benar baik, atau setidak tidaknya minus malum, yakni yang terbaik di antara yang jelek.

Menurut hemat saya ada beberapa tips untuk mencari tahu calon kepala daerah agar kita tidak salah pilih, ingat saat kita memilih pimpinan yang tidak bermoral artinya kita ikut menanggung dosa atas kebijakannya.

Apa saja kriteria untuk menjadi bahan pertimbangan kita memilih kepala daerah?
Berikut sembilan tips untuk memilih pemimpin adalah sebagai berikut. Pertama, pemimpin tidak boleh terlibat KKN dan kasus pidana yang lain.

Ini mungkin yang selalu dijanjikan oleh banyak partai politik, bahwa partainya tegas terhadap pelaku korupsi, lagi-lagi faktanya berbalik, banyak kepala daerah yang diusung partai melakukan tindak Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Di bawah ini data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat periode 2014 hingga 2017, sebanyak 313 kepala daerah terlibat kasus korupsi,belum termasuk kasus-kasus di akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018.

Kedua, pemimpin harus jujur dan adil. Pemimpin yang jujur dan adil, sepertinya mudah sekali diucapkan, namun faktanya banyak sekali para kepala daerah dan legislatif melakukan kebohongan dan kesewenang-wenangan.

Banyaknya berita tentang kasus korupsi yang berakibat penahanan para kepala daerah. Adil, kita bisa lihat dari kebijakan-kebijakannya selama ini, baik selama menjabat maupun selama berkiprah dalam masyarakat.

Apakah keputusannya hanya mementingkan kepentingan pribadi dan koleganya atau selalu bijak dan bermanfaat untuk semua?

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help