PosKupang/

Netralitas Media dalam Pemberitaan Pilkada

Diskusi publik yang disiarkan secara langsung oleh RRI Kupang itu menghadirkan lima narasumber, masing-masing

Netralitas Media dalam Pemberitaan Pilkada
ilustrasi

Oleh Tony Kleden
Pemimpin Redaksi Majalah Kabar NTT, mengajar jurnalistik pada Jurusan Komunikasi FISIP Unwira Kupang

POS KUPANG.COM -- Judul tulisan ini adalah tema diskusi publik dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini yang digelar Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Kupang, Senin (5/2/2018) petang.

Diskusi publik yang disiarkan secara langsung oleh RRI Kupang itu menghadirkan lima narasumber, masing-masing Ir. H. Ikman Posumah, M.Si, Kepala LPP RRI Kupang, penulis mewakili Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTT, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTT, Eksi Edison Riwu, Jemris Fointuna dari Bawaslu NTT dan Stevie Johannes (Pemimpin Redaksi Victory News).

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis yang antara lain disampaikan dalam diskusi publik itu. Dan, yang dimaksudkan dengan media dalam konteks tulisan ini adalah media mainstream, yakni media cetak, radio, televisi dan media daring (online).

Pilkada Itu Uang

Pemilihan kepala daerah, atau lazim disingkat Pilkada, bagi media adalah uang. Bagi media pilkada, juga kontestasi politik lain, merupakan kesempatan teramat mahal untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Ada target pendapatan yang dipatok untuk dikejar. Semua kru media dikerahkan untuk menangkap peluang berharga itu.

Senafas dengan adagium yang telah klasik dalam politik no free lunch, begitu juga dalam media seakan berlaku prinsip ini: no money no space (tidak ada uang tidak ada tempat di media).

Para peserta pemilu, yakni partai politik dan juga para calon kepala daerah paham benar pemberitaan di media itu sangat penting guna menaikkan pamor, memberikan efek pencitraan yang luar biasa untuk kemudian bisa memengaruhi pilihan pemilih.

Memang ada aliran pendapat yang mengatakan bahwa pengaruh pemberitaan media terhadap kemenangan sebuah partai atau seorang calon kepala daerah tidak terlalu signifikan lagi. Pendapat ini masih sangat debatable.

Tetapi jangan pernah lupa hukum keseringan bisa sangat memengaruhi pilihan pemilih. Semakin sering seorang calon kepala daerah tampil dan ditampilkan di media, semakin dalam pula nama itu masuk ke dalam nurani dan seterusnya mengendap dalam alam bawah sadarnya.

Semakin dalam nama itu masuk ke alam bawah sadarnya, semakin kuat kesadaran bahwa hanya nama itu yang ada dalam pikirannya.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help