Mengurai Kematian Ibu dan Anak di NTT

Anak dan istrinya yang tercinta. Ia adalah seorang Jemsius Taneo, yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Binaus Timor Tengah Selatan

Mengurai Kematian Ibu dan Anak di NTT
liberationnews.org
Ilustrasi 

Penyebab langsung tersebut diperburuk oleh status kesehatan dan gizi ibu yang kurang baik, dan adanya faktor resiko kehamilan pada ibu. Persoalan di atas dapat diminimalisir apabila ANC terpadu dilakukan dengan kolaborasi yang baik antar profesi di Puskesmas.

Hal ini berbanding lurus dengan tenaga penolong persalinan. Persalinan dengan kualifikasi tertinggi di Nusa Tenggara Timur mayoritas (58,2 %) ditolong oleh bidan, lalu urutan berikutnya adalah oleh dukun (27 %), dokter kebidanan dan kandungan (6,5 %) dan yang lainnya dengan persentase yang lebih kecil.

Karena beragamnya penolong persalinan tersebut dimana sebagian bukan tenaga kesehatan, maka persentase persalinan seluruhnya yang ditolong oleh tenaga kesehatan hanya 66 persen saja (RISKESDAS 2013).

Hal ini juga masih terkait dengan upaya pencarian pelayanan kesehatan yang juga berhubungan erat dengan keberdaan fasilitas kesehatan di daerah perkotaan dan pedesaan.

Tempat bersalin di Nusa Tenggara Timur sebagian besar (42,1 %) adalah rumah/lainnya dan selanjutnya urutannya adalah Puskesmas/Pustu (29,4 %), Rumah Sakit (19,3 %), Polindes/Poskesdes (6,4 %) dan paling jarang di RB/klinik/praktek nakes (2,7 %) (RISKESDAS 2013)

Kolaborasi Lintas Sektor

Pola ANC di Kabupaten TTS sendiri masih mengandalkan profesi tertentu yaitu bidan. Hasilnya cakupan ANC K1 di bawah rata-rata provinsi yaitu 82,4%. Persentase kunjungan ibu hamil K-4 mulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2015, trendnya cenderung menurun 3 tahun terakhir yaitu; 2013 (76%), 2014 (68%) dan 2015 (67%).

Apabila dibandingkan dengan target SPM 2015 ( 95%) maka terdapat kesenjangan sebesar 28 %. Hal ini menunjukkan bahwa proses penanganan ibu hamil di daerah ini belum maksimal.

Penanganan ibu hamil (ANC) terpadu selama ini menjadi tanggungjawab bidan semata, mereka menjadi ujung tombak dalam memberikan pelayanan (Endang Sulistyawati, at al 2009).

Sementara kompleksitas persoalan dan penatalaksanaan program ANC terpadu dipandang cukup kompleks dan membutuhkan peran serta profesi kesehatan lainnya secara efektif dalam sebuah tatanan praktik kolaboratif antar profesi (interprofesional collaboratif) di antara berbagai profesi kesehatan yang seharusnya terlibat diantaranya adalah : dokter, (umum dan spesialis), dokter gigi, bidan, perawat, ahli gizi, laborant, psikolog, sanitarian, kesehatan masyarakat dan tidak menututup kemungkinan profesi lainya dalam lingkup kesehatan maupun non kesehatan.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help