Memaknai Hari Orang Sakit Sedunia, Antara Hospitalitas dan Hospital

Pada saat yang sama kita berdoa dan berharap bahwa perayaan hari orang sakit sedunia semakin mengispirasi semua

Memaknai Hari Orang Sakit Sedunia, Antara Hospitalitas dan Hospital
(5432action)
Ilustrasi 

Oleh Maxi Un Bria
Alumni Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang,
Pimpinan Tahun Diakonat Keuskupan Agung Kupang

Salus Aegroti Suprema Lex, keselamatan orang sakit adalah hukum tertinggi (Hippocrates).

POS KUPANG.COM -- Semua orang membutuhkan keramahtamahan dan penerimaan yang baik (hospitalitas). Rumah sakit (hospital) yang dijiwai hospitalitas, didambakan setiap manusia. Hospitalitas memberikan rasa nyaman dan merasa seperti berada di rumah sendiri.

Hospitalitas berasal dari kata Latin hospes yang berarti tamu. Hospitalitas dimaknai sebagai sikap tuan rumah yang welcome kepada tamu dengan menunjukkan keramahtamahan, respek, murah hati dan menjamu tamu yang datang sehingga tercipta keakrapan, sukacita dan persahabatan.

Hospitalitas dan hospital berkaitan erat. Hospitalitas adalah seni menerima tamu atau orang asing dengan sikap yang ramah sehingga mereka merasa dihargai sebagai manusia dan siap terlibat dalam interaksi sosial.

Dewasa ini hospitalitas tidak saja berkaitan dengan urusan rumah sakit. Hospitalitas bahkan telah menjadi kebutuhan setiap orang dan menjadi karakter yang dapat dikembangkan dalam industri pariwisata, perusahaan, lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga non profit.

Dalam hidup bernegara dan dalam kancah hubungan internasional, hospitalitas telah menjadi sebuah nilai peradaban dan budi pekerti yang menarik untuk dihayati.

Hospitalitas telah menjadi kebutuhan bahkan bertumbuh menjadi sebuah industri. Orang yang dilayani dengan rasa hormat dan menjunjung tinggi martabatnya sebagai manusia, dapat menginspirasi terbangunnya pertemanan dan persahabatan yang baik.

Persahabatan yang baik melipatgandakan energi positif untuk melakukan hal-hal baik dan benar yang berguna bagi keluarga, komunitas, gereja dan bangsa. Orang-orang yang bersahabat mampu mengembangkan kemitraan yang saling melengkapi dan mengembangkan, mulai dari pekerjaan-pekerjaan berskala kecil sampai proyek-proyek berskala besar yang melibatkan banyak pihak pada level nasional dan internasional dan berdampak bagi terciptanya kebaikan bersama.

Harry Foster (dalam Dayly Thoughts on Bible Charaters, 2012) menulis, "Seorang sahabat sejati memancing hal-hal paling baik dari kedalaman diri kita, sementara sahabat palsu memancing hal-hal buruk dalam diri kita".

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help