Kurangi Pengangguran di NTT, KSP TLM GMIT Rekrut 28 Muda-mudi Jadi Staf Account Officer

Sebanyak 28 orang calon staf Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat (KSP-TLM GMIT) mengikuti pelatihan awal untuk menjadi staf Account Officer.

Kurangi Pengangguran di NTT, KSP  TLM GMIT Rekrut 28 Muda-mudi Jadi Staf Account Officer
ISTIMEWA
PELATIHAN-Suasana pelatihan para calon staf Koperasi Simpan Pinjam (KSP) TLM GMIT, berlangsung tujuh hari, 30 Januari-8 Februari 2018. 

POS KUPANG.COM-Sebanyak 28 orang calon staf Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat (KSP-TLM GMIT) mengikuti pelatihan awal untuk menjadi staf Account Officer (AO). Mereka akan ditempatkan di kantor-kantor cabang KSP TLM yang tersebar di Provinsi NTT, NTB, Bali, dan Sulawesi Tengah (Palu).

Para peserta yang mengikuti pelatihan ini merupakan hasil perekrutan Divisi Umum dan Personalia KSP TLM GMIT yang dibuka untuk pemuda-pemudi di NTT sejak awal Januari 2018 melalui beberapa tahapan seleksi.

Perekrutan ini akan terus dilakukan setiap hari kerja. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lembaga akan tenaga kerja, tetapi juga merupakan salah satu kontribusi TLM GMIT dalam mengurangi angka pengangguran di NTT. Hingga Januari 2018, jumlah karyawan yang bekerja di KSP TLM sejumlah 438 orang dan dipastikan jumlah ini akan terus bertambah.

Kepala Bagian Pelatihan KSP TLM GMIT, Jusuf Adoe, selaku pelatih utama pelatihan tersebut, menyebut agenda pelatihan berlangsung selama tujuh hari sejak tanggal 30 Januari 2018 sampai 8 Februari 2018.

Selama itu, diakui Jusuf, peserta diberikan materi-materi seperti pengenalan lembaga (TLM Group), peraturan dan kode etik lembaga, manual pinjaman SeSaMa (perSEkutuan uSAha bersaMA), manual simpanan berjangka (Deposito). Pelatihan diakhiri tes tertulis, kemudian akan kirim ke cabang-cabang KSP TLM untuk mengikuti pelatihan lapangan sebelum menjalani masa kontrak kerja.

Jusuf menjelaskan, KSP TLM juga bekerjasama dengan Yayasan TLM untuk memberikan pelatihan terkait dengan materi perlindungan anak bagi calon pegawai. Ini dilakukan sebagai kontribusi lembaga (TLM GMIT) dalam mencegah dan mengurangi kekerasan terhadap anak yang dewasa ini kian hari kian marak.

Shanty Penlaana Kock, pemateri dalam pelatihan ini, ketika ditemui seusai memberikan pelatihan, menyatakan, TLM merupakan lembaga sosial ekonomi yang bermitra dengan pihak donator luar negeri, wajib mengintegrasikan setiap program kerjanya dengan program kerja lembaga donor. Salah satunya ialah perlindungan anak tersebut.

"Ide awalnya memang dari Uniting World, TLM bekerja sama dengan lembaga donor yang mewajibkan TLM sebagai mitranya turut serta dalam mengkampanyekan perlindungan anak. Dan, saya rasa juga ini sangat penting bagi staf TLM. Sebab, setiap hari di lapangan mereka bertemu dan bersinggungan langsung dengan masyarakat, tak terkecuali anak-anak. Jadi, ketika kita membekali mereka dengan pengetahuan yang cukup akan peraturan perlindungan anak, maka dengan sendirinya mereka akan melanjutkan di lapangan. Selain itu juga, staf yang sudah dilatih itu sendiri diharapkan tidak akan melakukan kekerasan terhadap anak baik di dalam pekerjaannya maupun dalam kehidupannya sehari-hari," imbuh Shanty.

Salah satu calon staf KSP TLM peserta pelatihan, Efraim Kadja Pau, mengaku sangat senang dengan pelatihan dimaksud karena mereka benar-benar dipersiapkan dengan materi-materi yang sangat bermanfaat, tidak hanya manual pekerjaan saja tetapi juga tentang materi-materi sosial kemasyarakatan sehingga ketika di lapangan mereka lebih siap dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

"Tentunya kami sangat senang dengan pelatihan ini. Di sini kami diajarkan untuk melindungi hak-hak anak, anak-anak dijauhkan dari berbagai macam kekerasan baik itu fisik maupun psikis sehingga mereka bebas bermain dan belajar untuk dapat bertumbuh menjadi generasi penerus yang baik. Jadi, sebagai calon karyawan, materi ini menjadi bekal yang sangat penting untuk kami sehingga dalam menjalankan tugas, kami dapat melanjutkan kepada masyarakat, juga kami pun bisa menjaga diri, menghindari bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak di masyarakat," tutur Efraim.

Pelatihan perlindungan anak ini sudah dilakukan sejak tahun 2013 lalu, diberikan kepada semua staf KSP TLM dan Yayasan TLM, baik lama maupun baru. Harapannya, semua yang bekerja TLM dapat menjadi agen perlindungan anak di masyarakat, dimulai dari keluarganya sendiri maupun di lingkungan masyarakat sehingga dapat membantu menekan tingkat kekerasan terhadap anak yang sering terjadi di masyarakat dewasa ini.*

Penulis: Benny Dasman
Editor: Benny Dasman
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help