Mengawasi Narsisme dalam Politik

Seorang pemimpin yang tak memahami visi, misi dan tujuan politik . Pemimim yang memimpin sebuah negara untuk semua

Mengawasi Narsisme dalam Politik
ilustrasi

Oleh: Gabriel Adur
Rohaniwan, bekerja di Keuskupan Muenchen-Freising Jerman

POS KUPANG.COM -- Disfungsi politik memiliki pengaruh besar (Macro effect ) terhadap tatanan hidup sebuah negara. Ini akan ditandai dengan vakumnya program-program politik untuk memenangkan kepentingan seluruh rakyat.

Situasi carut marut seperti ini dialami oleh negara adidaya, Amerika. Mark Lilla melihatnya sebagai kegagalan besar mereka yang menyebut dirinya kaum demokrat dan liberal di negara Paman Sam. Lilla mengecam: mereka telah mengusung seorang "pelawak", (the clown, Donald Trump) sebagai pemimpin negara.

Seorang pemimpin yang tak memahami visi, misi dan tujuan politik . Pemimim yang memimpin sebuah negara untuk semua rakyat bukan hanya untuk untuk the white America tidak nampak dalam program politik sang presiden.

Trump dinilainya tidak melihat situasi negaranya yang sedang dilanda persoalan sosio, politik kultur dan ekonomi yang hebat. Kaum yang menyebut dirinya demokrat dan liberal juga tidak mampu mengawasi dan mengeritik tindakan dan kebijakan politik Trump yang banyak menimbulkan konflik di dalam dan di luar negeri (dalam urusan diplomasi dengan negara-negara lain dan NATO).

Selain Lilla, Michael Wolff mengeritik kepemimpinan Trump sebagai malapetaka sosial politik. Bahkan Wolff lebih jauh dari Lilla mengharapkan agar kepemimpinan Trump benar-benar berakhir.

Dalam bukunya, The Once and Future Liberal. After Identity Politics, Lilla mengeluh sekaligus merefleksikan; kita yang menamakan diri liberal dan demokrat sedang mengalami kekalahan, ketika kita tidak mampu mengupayakan tatanan negara yang baik.

Politik yang merupakan upaya membentuk sebuah kebersamaan yang melibatkan banyak pihak sudah tidak nampak. Sebaliknya yang terjadi di Amerika adalah politik jatuh pada kepentingan pribadi. Kita tidak mampu melihat keluar dari diri kita sendiri.

Persoalan politik tak lebih dari persoalan tentang saya. Bukan tentang yang lain. Apalagi tentang masyarakat secara lebih luas. Lilla mengambil contoh konkrit persoalan diskriminasi Afro-Amerika di negaranya.

Kita tidak akan pernah mengalami bagaimana hidup sebagai masyarakat Afro-Amerika yang terus mengalami diskriminasi dan selalu menjadi target kejaran polisi ketika kita tidak mampu merasakan situasi mereka.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help