Masalah Kesehatan Jiwa di Kota Kupang Kian Mencemaskan, Inilah Faktanya

Kita mungkin belum lupa berita tentang ditemukannya jasad seorang bayi di tempat sampah. Jasad tersebut adalah bayi

Masalah Kesehatan Jiwa di Kota Kupang Kian Mencemaskan, Inilah Faktanya
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Oleh: Maria F Elfrida
Perawat Kesehatan Jiwa

POS KUPANG.COM -- Salah satu media online (26/1/2018) memberitakan seorang warga menemukan "mayat bayi dikubur dekat sumur di RT 30 RW 10 Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Jumat (26/1/2018) sekitar pukul 10.00 Wita". Berita miris ini menambah catatan hitam tentang pembunuhan bayi di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang.

Kita mungkin belum lupa berita tentang ditemukannya jasad seorang bayi di tempat sampah. Jasad tersebut adalah bayi mahasiswi yang hamil di luar nikah. Lebih tragis lagi ada mahasiswi salah satu perguruan tinggi di NTT yang beberapa bulan lalu juga diberitakan ditemukan meninggal bersama janinnya yang baru berumur lima bulan di tempat kostnya.

Kasus bunuh dini juga banyak di Kota Kupang. Dari berbagai penelusuran data yang coba saya kumpulkan, sepanjang tahun 2017 ada sebanyak 11 kasus bunuh diri yang terjadi (kupang.tribunnews.com/2017).

Korban bunuh diri yang terekspos oleh media ini kebanyakan adalah pelajar dan mahasiswa dengan motif depresi yang didasari oleh masalah ketegangan dan kesulitan hidup, tekanan sosial, budaya maupun faktor ekonomi.

Apa yang sebenarnya terjadi di Kota Kupang? Sehatkah kondisi kejiwaan masyarakat kota ini?

Selain kasus pembunuhan bayi dan kasus bunuh diri, ternyata jumlah kasus pencabulan anak juga cukup tinggi. Sepanjang tahun 2017 dilaporkan sebanyak 16 kasus dan ini hanya kasus di Kabupaten Kupang saja (Pos Kupang, 14/1/2018); belum termasuk data kasus pencabulan anak di Kabupaten lain ataupun kasusnya tidak terkuak karena tidak dilaporkan Karena berbagai alasan.

Yang membuat miris, ternyata pelaku pembunuhan bayi dan pelecehan anak adalah keluarga dekat, termasuk orangtua kandungnya. Untuk kasus pelecehan seks, banyak yang tidak dilaporkan karena alasan-alasan ini.

Kasus-kasus pembunuhan bayi, bunuh diri dan pelecehan seksual menurut penulis, banyak berhubungan dengan masalah kesehatan mental. Kesehatan mental tidak hanya identik dengan gangguan jiwa atau "orang gila" saja.

Gangguan jiwa dapat terjadi karena adanya tekanan dalam pikiran baik itu peristiwa dalam kehidupan yang menimbulkan stress, ketegangan dan kesulitan hidup, adanya tekanan sosial, budaya maupun ekonomi.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved